Ingin Bertanya (Dahulu Hingga Kini)
Dunia sekarang hanya persiapan untuk dunia selanjutnya,
yang bisa kita harapkan bagaimana hidup saling mencinta dan dicintai. Pada
hati yang diam dan senduh dalam perenungan, Aku ingin bertanya....? Dahulu hingga kini suara hatiku piluh, dan kesah kerana itu cinta, dan nista itu masih bersama ku hingga
saat ini.
Ketika
waktu membuaiku dalam kenangan, bukan hasrat ingin bermain kata menulis puisi
cinta.
Tapi
ini penyangga jiwa yang layu,
bersandar bercumbuh kasih. Sajak demi
sajak terurai
dalam bahasa piluh sebagai pengganti ayat-ayat cinta penenang jiwa.
Kata
demi kata yang terucap
hanyalah wujud dari dirimu. Semuanya tak indah aku tak mengelak jika ada kata yang sering membuatmu
sakit, dan itu sering terbuatkan oleh ku tanpa sadar mau-pun tak sadar. Tapi setiap
yang keluar dari helaian nafas adalah segala bentuk kasih terhadapmu. Hatiku
piluh mengenang nostalgia cinta yang terbenam
dibenaknya, itu adalah kenangan yang terkenang, itu adalah bahagia yang hilang,
dan itu adalah kamu yang
kini hidup dalam sepihku.
Kehilangan
cinta mungkin adalah hal yang biasa dalam dunia percintaan, namun untuk ku kehilangan
cinta darimu bukanlah hal biasa yang harus aku rasakan. Aku tak perna
mempersiapkan diri untuk kehilangan mu, dan kini diriku laksana daun kering yang berterbangan, terombang-ambing dalam
naungan badai, bingung, tidak tahu kemana diriku akan dicampakkan.
Tak
ada yang dapat menyalahi lumrah insani yang indah di helaian kutub hati. Satu
persatu huruf-huruf tersusun menjadikannya indah dalam makna prasa. Bukan puisi
tentang cinta ini hanya bait hati yang tertuang dengan tulus. Aku jujur, inginnya
engkau juga demikian, tanpa tahu tentang hiba hinanya aku.
Aku
ingin bertanya,.....? Adakah
engkau tak pernah terfikirkan tentang aku....? Apakah engkau tak pernah terlintas
akan nama ku, senyum ku, kasih sayang ku ditempat bermain jalanan hari-hari mu....? Tak
adakah sekelumit kenangan antara kita yang bisa membuat bibirmu sidikit
tersenyum....?
Aku
ingin bercerita...?
Tentang
diriku, tentang rinduh yang bersemanyam dalam hati ini. Rinduhku dengan mu senantiasa menegurku. Terkadang sikapmu yang seakan tak peduli, ada yang berlalu melintasi hari-hariku, menyelam kedasar
dikedalaman lautan hati. Aku mengikutinya dalam diam sambil menerka apa yang kau
inginkan. Sambil menyeduh kenangan lalu, menghirup sari cinta disaat kita
bercumbuh kasih, tanpa sedar airmata ku jatuh mengalir
dipelipis wajah yang duluhnya perna kau sentuh. Ingatkah engkau ketika aku tertidur disampingmu, disaat kita tersesat disebuah perkebunan. Aku mengingatmu, mengingat tentangmu, sungguh hatiku rinduh ingin
mencumbui cintaku padamu. Dirimu yang ku ingat, yang bersemanyam dalam sanubari kecilku. Ku ingin kau tahu tentang ku, tentang cinta yang selama ini
ku
simpan.
Aku
ingin bertanya lagi padamu.....? Bahagiakah engkau disana...? Tersenyumkah
engkau disana...? atau tertawakah engkau disana,ditempat yang tanpa diriku...?
Sudah bertemukah engkau dengan selaut bahagia yang kau cari, seluas angkasa indah yang engkau dambakan, sejuta ketenangan
hati yang engkau
impikan...?
Boleh
aku bercerita lagi padamu...?
Aku
rindu, rindu yang selalu memandangmu dihatiku. Aku tak tahu engkau milik siapa nantinya,
aku ataukah mereka. Jika nanti kau telah memutuskan, ku kan terima
dengan hati yang suci. Ikhlas sebab
melihat senyum diwajamu. Dan ketika itu juga aku menjauhkan diri
membawa kata hiba untuk hati
ini.
Biar ku pandang engkau laksana bintang yang jauh disana, bercahaya gembira menghiasi malam. Dan sesungguhnya
aku ingin
berada disampingmu ikut gembira gemerlipan bintang. Namun ku
pilih melihat mu
dari kejauhan,
demi gembira mu
wahai bidadari. Aku mencintaimu itu sikap yang ku tunjukan
dari tulusku, namun apa hendak dikata jika takdir meminta kau tak berkata sama
dengan ku. Aku tetap mencintaimu walau demikian. Akan ku cari dirimu melewati
seribu dunia dan sepuluh ribu kehidupan selanjutnya, sampai takdir lelah
menjauhkan dirimmu dariku. Aku akan mencarimu disemua kehidupan itu, hingga
takdir berkata lain, dan menyatuhkan ku dengan mu dikehidupan selanjutnya.
Dirimu adalah hidupku, tempat nyaman istana hatiku.
Bolehkah aku
bertanya lagi....? Kenapa airmata ku mengalir ketika aku menuangkan kata hati ini, menitipkan kata monolog jiwa ini...? Sengsarakah diriku...? Dapatkah engkau menjawabnya....?
Curhatan (Goresan Piluh)
Aku seperti bait puisi bisu,
kesepian dalam bingkisan kalbuh,
setiap kali mendengar nyanyian rindu,
liri hatiku terus piluh.
lembar demi lembar goresan berlalu,
memaknai bintang, bersinar tak memahami.
ku coba mencerna isyarat hati,
semakin mencerna bahasa piluhku menguasai
aku... aku bingung harus gimana...!
mengikuti kata hati, membui asahku.
tuhan, dengarlah curhatan batin ini,
aku bingung dalam menerka,
tentang cinta yang bersarang dalam hati.
aku bingung tuhan....
tentang apa artinya cinta,
yang memeras habis masa indah ku diwaktu laluh,
membakar setiap rongga dada,
yang panasnya tak tahu malu.
aku bingung tuhan...
yang mahkota cinta kau tanam dalam istana insani,
sampai hati bertindak sebagai tirani.
tuhan...
apa maknanya cinta..?
hingga ucapan menggelembung dalam lamunan.
tuhan....?
adakah bintang yang sama akan mendengar,
meneteskan embun, menyejukan hati.
ini sudah cukup pedih,
ku rasa hati akan menikmatinya sampai mati.
GURINDAM
Saat gurindam menyampaikan pesan
mata terpejam mendengar tangisan
bagai angin membawakan hujan
membasuh jiwa hingga kesakitan
mendengar kata dari serpihan mantra
membuat dada, goncang akan itu kata
sambil terbata hati berkata
tak sanggup lagi hati berlumur dosa
dalam sesal hati mengelu
tentang buruk perjalanan waktu
adakah sinar akan hal itu
agar hati tak lagi mengerutu
untung datang si penjual ikan
membawah hasil dari lautan
tak disangka ialah kawan
memberi gurindam menyampaikan pesan
jaganlah mengeluh wahai tuan
marilah menghadap ke arah tuhan
iya tahu segala kearifan
bertobat pastilah dimaafkan.
Medan, 02 Maret 2014
DALAM LAMUNAN
Malam
makin menunjukan kepekatannya, malam ini malam minggu yang seharusnya malam ku berduaan
bersamamu, duduk berdamping memaduh kasih tanpa resah dan kegelisahan sang
malam, berdempet posisi tanpa ada celah pemisa antara aku dan kamu.
Sebentar-sebentar
aku pergi kearah pintu, melihat mereka yang sedang memaduh kasih, bercerita
hangat dalam sebuah pelukan malam. Aku irih pada mereka, yang dimalam minggu selaluh
berduaan bersama kekasihnya, bercerita bersama, ketawa bersama, canda bersama,
mengukir kisah romatis diwaktu yang sama. Hemmmzzzzz dalam hati ku seolah tak
ada hentinya membaca do’a, meletakkan disetiap namamu diujung bulir-bulir
tasbinya yang terucap.
Aku
ingin seperti mereka, namun itu hanyalah ilusi berupa hayalan yang memanjakan
waktu ku saat ini. Hanya sebuah harapan yang tidak aku ketahui dimana letak
titik akhir ia akan berhenti, tak ada symbol atau kode yang memberikan tanda
bahwa ini akan berakhir. Semacam mengikuti putaran jarum jam yang tertempel
didinding kamarku, ia terus berkeliling dari waktu ke waktu dikejadian yang
sama dan tempat yang sama tanpa berhenti walau malam telah terlelap dalam mimpi.
Ini kenyataan, buktinya aku masih disini, masih diatas hangatnya kursi yang
telah lama ku duduki sedari tadi, mungkin kalau saja kursi ini bisa menjerit,
ia telah berteriak tentang kebosanannya memangkuh pantatku. Sedangkan aku terus
sibuk mencari kisah yang ingin ku abadikan didalam sebuah tulisan ini, aku
ingin menulis lepas seperti penulis yang dengan mudah mengalirkan tintanya
diatas selembaran kisah tentang kehidupan, namun aku tak dapat meniruh jalan
mereka dalam menguraikan sebuah kisah.
Aku
terus mencoba memasuki diriku sendiri untuk mengambil detik demi detik kisah
yang mungkin bersedia untuk ku abadikan dalam kisahku malam ini.
Kopi
telah berapa gelas ku habisi, rokok sebatang demi sebatang berlaluh habis termakan
api, walau perlahan terhisap, asapnya menebar mengkabutkan ruangan, seolah
menghalang jalannya imajinasiku dalam berlayar. Harap berganti harap supaya
imajinasiku mampu bermain dalam manjaan hanyalku, namun itu belum juga cukup tajam
mengupas dinding yang memenjarahkan ku, padahal tubuh ini telah ku telanjangi,
telah ku lepas jubah kekecewaan yang membelengguhku dari masalah-masalah
kehidupan, telah ku kuliti sekujur tubuh ini dengan imajinasi perasa, telah ku
lepas semua keresahan diri yang mengurungku dari rasa ketenangan jiwa, namun
masih tak mampu juga aku menembus ruang-ruang penjelajahan riwayatku.
Pilihanku
malam ini ingin mengukirkan kisahmu dan kisahku yang berkalborasi dalam sebuah
ikatan cinta, ku ingin menciptakannya dengan jari-jariku sendiri tentang kisah
kita, dengan membiarkan daya khayalku menjelajah masa lampau yang mengulang
riwayat waktu ketika aku bersamamu. Ini pilihan bukan tanpa pertimbangan, telah
ku coba lari dari bayanganmu, namun diujung malam ditempat perenungan ku ini
terus menyebut namamu wahai kasih. Ku nikmati cumbuan malam ini bersamamu, ku
sambut bahagia bayangmu hadir disisi.
Seharusnya
malam ini aku menelpone mu, bertanya “kamu lagi apa, dimana, dan sama siapa,
atau sekedar menanyakan tentang kabar dihari-harimu”. Tapi entah kenapa dari
hari kemaren sampai saat ini hatiku lemah, jiwaku sepih, aku merasa ingin
sendirian tanpa ada yang menggangguku, termasuk denganmu, yang padahal
kesunyianku telah sadar bahwa aku telah berada didalam sepih. Bukan aku lari
pergi darimu atau melupakanmu, kamu tetap ada bersamaku selalu menemani
disetiap helaian lamanuanku.
Mereka,
dia yang ada disekitarku malam ini, melihatku dengan keanehan, kadang mereka
tertawa, kadang tersenyum, mengejek dengan kata lembut, namun tiada ku peduli.
Ku ingin tetap dalam posisiku, tak ingin lepas dari rasa bahagia becumbuh
dengan mu, ku tahu ini khayal, ku sadar ini ilusi, namun ku tak ingin hilang
walau sekejap bersama bayangmu. Ku ingat masa kita berdua, duduk bersama,
ketawa bersama, berbincang ngelantur kesana kemari, kadang terhenti kau
menatapku dengan tersenyum, meski terkadang aku juga sering terdiam menatap
polos raut wajahmu, ku tersenyum kasih.
Jika
ini adalah sebuah mimpi bagi diriku, aku tak ingin terbangun dari tidur ini,
walau ku tahu ini sebuah ilusi khayalan yang mengajak imajinasiku bermain dalam
bayanganmu, aku tak ingin terlaluh cepat sedar dari tempat perenungan ini.
Ingatkah
engkau dengan ku kasih, ataukah engkau sedang merasakan hal yang sama seperti
kondisiku saat ini, ku harap memang demikian adanya. Jika memang iya, aku
senang mendengarnya.
Wahaii
gadis kecil berwajah bidadari, kau seperti tuan putri didunia khayangan yang
diberi izin lahir ke bumi. Kau semacam mahkota yang tak boleh disentuh oleh
siapa-pun selain pangerannya sendiri. Aku ingin jujur dalam kebisuanku, melalui tulisan ini aku
menceritakan tentang kenyataan cintaku dan kamu, aku tak perna berbohong dalam
perenungan, walau terkadang aku sering tak jujur dengan kenyataan. Aku tahu
siapa aku, walau sering aku tak mengerti bagaimana aku, aku harus mengatakan
hal ini padamu, tentang kenyataanku dan cintaku atas dirimu.
Ini
segelintir kisah dalam perenunganku saat mengingatmu, cerita ini cerita laluh,
yang tak sama sekali berharga dalam hidupmu, mungkin juga kamu telah lupa. Tapi
tidak dengan ku, ini kisah terindah dalam perjalananku, selalu ku simpan dalam
memori ingatanku. Dan juga karena sepenggal kisah ini membuatku mampu bertahan
hingga saat ini, dan berharap akan abadi sampai liang lahat menguburku dalam
kematian.
Hari
itu, aku mengantarmu pulang kerumah, bukan yang pertama mungkin entah yang
keberapa kali, aku lupa itu hari yang keberapa aku mengantarmu. Aku senang
melakukannya walau setiap hari aku harus antar jemput. Diatas sepeda motor yang
kita tunnggangi aku kebanyakan tersenyum daripada bicara. Dari hati ku mencoba
untuk mengatakan sesuatu yang tak perna aku mengerti dari mana datangnya, entah
badai apa yang menggulungku hingga remuk dalam asmara ini. Mungkin saat itu
engkau telah tahu tentang apa yang ingin ku sampaikan, namun kita sama-sama
masuk kedalam suasana yang membisu. Kira-kira sudah dekat kearah rumahmu, aku
mencoba memberanikan diri untuk bertanya “malam ini sepertinya malam apa..?, dan
adakah malam ini tamu mu datang kerumah
untuk menemui mu…?” engkau menjawabnya dengan singkat, namun penuh kejelasan,
aku mendengarnya seakan melayang keudarah yang wangiannya ditaburi dari seribu
bunga. Ini kesempatan emas dalam hatiku berbisik, seketika engkau mengantarkan
pertanyaan yang membuatku kebingungan dan gugup untuk menjawab apa. Saat itu,
kali pertama aku membohongimu, dengan mengatakan kalau ada seorang teman dariku
yang menyukaimu, namun ia sulit untuk mengatakannya secara langsung. Saat
itulah aku membohongimu dan menyakiti hatiku sendiri, hanya karena aku ingin
kerumahmu malam itu.
Engkau
seolah penasaran dengan temanku yang menyukaimu itu, dan mengizinkan aku untuk
datang kerumah mengajaknya malam ini. Tak begitu banyak obrolan terurai
disepanjang jalan, kita telah sampai didepan rumahmu. Engkau-pun langsung turun
dan menitipkan senyum padaku sebelum aku juga berangkat pulang kerumah, aku-pun
membalasnya dengan tersenyum, namun dibaliknya aku simpan kebingungan untuk
menghadapi kebohonganku terhadapmu tadi.
Karena
hari telah senja, malam-pun begitu cepat datang menjemputku, seakan senyum yang
kau titipkan padaku didepan rumahmu tadi telah menggil, menjemputku untuk
datang. Untuk menemuimu malam itu aku seolah menjadi pangeran yang tak ingin
lupa sedikit-pun asesoris yang melengkapi jubahku. Rambutku adalah seperti
mahkota yang selalu diperhatikan oleh orang-orang yang tinggal diistana,
sehingga aku merapihkannya serapih mungkin, dengan harapan engkau akan melihatku
sama seperti orang-orang diistana memperhatikan mahkota yang terpasang diatas
kepala pangerannya. Baju, celana, serta parfum yang aku pakai telah sedemikian
rapih dan wangi, aku tak ingin malam ini engkau melihatku seperti gembel
dijalanan, malam ini adalah malam pertamaku yang akan menyatuhkan tapak kaki ini
diatas lantai istana mu.
Hemmzzzz
malam itu, malam yang menakutkan bagiku, bukan karena menemuinya, tapi ketakutanku
karena harus menemui diriku sendiri.
Gedor
demi gedor, salam demi salam, ku ucapkan Assalamualaikum tepat didepan pintu
rumahmu. Ada suara jawaban terdengar, namun suara cowok, mungkin itu adalah
suara kakak mu, ternyata benar, dia-pun membuka pintu, dan bertanya “Ada apa”,
dengan hati yang gerogi aku memberanikan diri padanya untuk mempertanyakan
dimana keberadaanmu. Aku melihat keramahan diwajah kakak mu, sehingga rasa
takut dalam diri pun jadi hilang. Kakak mu langsung menggilmu dan berkata ada
kawanmu diluar”, engkau menyahutnya dengan “Iya, tunggu sebentar”. Suara merdu itu
membuatku tetap berdiri menunggumu
menyambut kedatanganku dirumahmu malam itu. Engkau keluar membuka pintu,
dalam hatiku berdoa semoga engkau juga membukakan pintu hatimu untukku,
hehehe….J dan menyambutku
sama halnya seperti didepan pintu ini, dengan tersenyum J.
Waaahhhhh,
karena keasyikan terjun dalam lamunan yang menceritakan kisahku dengan dirimu,
aku jadi lupa keberadaanku saat ini. Orang-orang yang disekelilingku tak ku
cakapi walau sekata ucapan-pun, terkadang mereka bertanya, Tidak ku jawab
sebutir huruf-pun yang terlontar dari bibirku. Mungkin mereka sakit hati dengan
sikapku yang demikian, tapi biarlah, mereka juga akan mengerti jika suatu saat
sebuah cinta menerpa dinding hatinya.
Aku
tidak menginginkan hal ini, namun bila aku telah terjun dan tenggelam dalam
lamunan bersamanya, jiwaku tak mampu lagi keluar serta imajinasiku tak sanggup
mengelak atas apa yang telah ia taburi diatas ubun-ubunku. Ini adalah
sebahagian risiko dalam menjalankan hubungan jarak jauh, yang dipisahkan oleh
gunung dan air, samudra dan pulau, oleh lautan dan juga pantai, yang hanya
mampu bercinta dalam lamunan, dan khayal.
Jika
ini sebuah kesalahan, aku harap kalian tidak menemukan kisah cinta sepertiku
saat ini dan juga tidak menjalankannya seperti yang aku jalankan sekarang ini,
sebab ini sangat menyakitkan..
Medan, 2 November 2013
Kembali Menyapa
Dunia semakin kelam,
Gelap tanpa cahaya
Alam yang hening hilang tanpa jejak.
Saat pelangi mulai mewarnai
Aku menyimpanmu dalam senyum
Tersenyum bagaikan mentari menyambut hari.
Pesonamu dingin
Layaknya engkau mengisih pagi
Engkau membawaku bersamanya,
Bersama hening kau membasuh luka
Menebar bahagia tanpa warna
Aku bahagia terjatuh dalam belaianmu
Aku bahagia walau itu hanya sementara.
Engkau ketenangan dalam jiwa
Pelita bagi hati yang fhana.
Aku tahu kau tersapu hangatnya mentari
Aku juga tahu kau hanya hilang tuk sementara,
Dan kembali menyapa ku lagi.
Sendiri
Ditengah gemerlipan cahaya
Ditengah rintikan hujan
Diantara rumput bergoyang
Aku tersandung dalam tarian malam
Aku terlena, dan lupa ingatan
Sengaja aku lupa.
Rangkulan jemariku dingin
Menahan emosi akan amarah dalam jiwa
Aku lemah, terkulai dalam kehidupan
Aku kalah terhadap mimpi-mimpiku sendiri
Hatiku berdenyut sakit, pedih, dan juga pilu
Terhadap mimpi-mimpi yang tak kunjung aku raih
Ingin aku berteriak pada alam
Tapi siapa yang akan mendengar
Nafas terhembus disela-sela kegelisahan
Pejaman mata, hilang sepiku sesaat
Aku tertunduk malu pada kehidupan
Air mataku mengalir tanpa sadar
Tak ada yang tahu kesendirianku disini
Hanya berharap pada keajaiban
Menghapus duka yang jadi beban.
SweetHeart
kamu telah jauh
itu sudah cukup menyakitkan
jangan kamu menghilang lagi
dari kejauhan ini
jarak ku sudah cukup mengajari
betapa perihnya hidupku tanpa mu disisi.
sudahilah sayang.....
kembalilah pada hatiku.
ini sungguh lelah,...
diriku tak cukup kuat untuk berdiri
nafas ku terengah-engah
tersendat dalam kata-kata
tidakkah kamu tahu
kamu adalah tangkai hati ku
jika kamu pergi,
maka hatiku akan mati.
you are my sweetheart
if you go,
then my heart will die.
Medan, 8 Maret 2014
Diawang-awang
Pengen mati
tapi tak ingin bunuh diri
pengen bercinta
tapi tak ingin berkata
berharap takdir
berkata hadir
belom dicobah
udah ngaku kalah
melihat wajah
berlayar diawang-awang
Eeee pas mau dicobah
udah diambil orang
berucap hati biarku simpan
dirimu lahir begitu menawan
kalaulah ada kata mantan
biarlah ku tunggu putusmu kawan.
kasihan....!
Masih Di-Hatimu
Aku gak tahu apa yang membuat aku disini,
Aku juga gak tahu kenapa aku masi berada disini,
Tetap bertahan dalam kesunyian.
Aku telah coba mencintai yang lain,
Telah ku coba memberikan hati pada yang lain,
Layaknya aku memberikan jiwaku kepadamu.
Namun, aku tak bisa,
Hatiku tak sanggup tersenyum dalam kebohongan.
Pohon kenangan masih hidup, mengakar kedalam jiwa,
Masih mengajakku selalu bersamanya,
Menghadap kesunyian dialam keabadian.
Jiwaku masi dsana,
Masih berada dihatimu,
Memanggil selalu rinduku disini.
Aku benci waktu sekarang,
Aku benci jarakku sekarang,
Aku benci jarak waktu memisahkan,
Membiarkanku selalu bersama dalam kesepian.
Aku bosan hayalku
Aku bosan dengan wajah kesakitan..
Rantingku telah patah, tangkai ku telah putus,
Ikatanku telah lepas.
Tapi, jiwaku masi tinggal disana,
Masih hidup bersamamu.
Jiwaku.....
Engkau selalu memanggil kerinduan dalam hati,
Kembalilah jiwa, kembalilah kepada hati ini,
Tiada rindukah engkau memelukku,
Tiada rindukah engkau disampingku,
Tiada inginkah engkau bersandar disini lagi,
Menemani aku dalam kesepian yang kau tinggalkan.
Aku rindu padamu,
Rindu menatapmu,
Rindu melihat senyum manismu,
Aku rindu berada disisimu.
Disini aku sunyi tanpa mu,
Disini hampa tanpa engkau menghidupkan.
Aku Sedang Rindu
Ku biarkan mereka berkicau,
Mencuap suara merduh,
Bernyanyi nada hati.
Suara gitar berirama memanggil angin,
Berhembus seolah menari bersama Luapan Hati.
Ku nikmati alunannya
Menyambut syahdu keheningan malam.
Sambil terpejam,
Ku menanti ia yang ku rindu,
Yang menyematkan cinta kedalam hati.
Mereka terus bertabu,
Tak peduli kala malam telah berlarut.
Hingga sampai jiwa terlena dalam lamunan.
Tak ada teman yang mengerti,
Tak ada sahabat yang mampu memahami,
Kalau disini,
Aku sedang merindui.
Ketika Cinta Mengajarimu Jatuh Cinta
ketika waktu mu telah sedar
ia akan menegurmu dari kelengahan
membuatmu merayakan hari istimewa
yang kau sebut dengan kata cinta
begitu indah....!
begitu menyakitkan...!
ketika cinta mengajarimu tentang jatuh cinta
indah ketika engkau merasakan cinta yang
ada didalam hatimu terhadap orang yang kau cintai.
menyakitkan ketika engkau tahu bahwa
yang kau cintai tidak begitu peduli terhadap dirimu.
ketika cinta mengajarimu tentang jatuh cinta
engkau akan memandang dirinya
engkau akan memandang dirinya
seperti aku sedang melihat keindahan
dari raut wajahmu
engkau akan mencari tahu tentang dirinya
seperti aku tenga mencari tahu siapa
yang ada didalam hatimu
engkau akan mengikuti dirinya
seperti aku sedang kesusahan mencari
perhatian dari mu
engkau akan kehilangan dirinya
seperti aku sedang kecarian dimana suara
mu
engkau akan mencoba berhenti dari
kelelahan terhadap dirinya
seperti aku tak sanggup untuk kehilangan
dirimu.
ketika cinta mengajarimu tentang jatuh cinta
sangat menyakitkan...
tapi itu harus kau rayakan
menikmatinya dalam kesabaran hati,
karena begitulah cinta......
ia akan selalu mengajari dirimu untuk
bertahan
sebab ketika kamu mencari sesuatu yang
keluar dari dirimu
maka kau akan kepayahan.
Medan, 25 February 2014 13.30 WIB
Adhie Be'i
DALAM PENGAWASAN
Menangislah....
sampai airmata derai kehabisan
sampai duka terhanyut menghilang
Tertawalah....
saat senang mendekap,
saat bahagia memberimu arti,
sampai perut melilit penuh kesakitan.
Berteriaklah wahai suara...
teriakkan sekuat-kuatnya,
sampai tenggorokanmu kering tak berliur
sampai halilintar kalah ketakutan
akuingin mendengar mu,
mendengar suara dari lisan jiwa.
Aku melihat keheningan pada waja manismu,
aku mendengar kabar merintih kesakitan.
aku tahu...
aku tahu kau takut....!
aku tahu kau lemah....!!
bahkan...
aku lebih tahu kau tak sanggup.
Bukan aku tega...
bukan aku tak mengerti,
bukan juga aku membela diri
tapi kau dalam pengawasanku.
lihat aku disini..
apakah kau memanggilku
apakah kau memelukku
dan kembali kepadaku.
Aku ingin melihatmu,
saat kau menangis karena duka
saat kau tertawa, karena bahagia
saat kau berteriak, karena marah
saat kau hening, karena masalah
dan aku ingin melihatmu
apakah kau menoleh ku dalam keadaanmu
apakah kau mendekapku penuh sujud kesyukuran
atau....
mala berpaling mengabaikanku
menganggap hadir ku tak ada,
tiada pelindung bagi kehidupan mu.
Medan, 26 February 2014
Ketiadaan
Nangis histeris dalam duka sementara
menyesal dengan rencana yg tiada,
melunjak amarah tuk merubah diri, namun
hilang sekejap ketika berhadap dengan orang lain
yang sedang berduka juga... .
dimana nyali,
dimana keberanian yg berkobar,
dimana amarah yg telah tersimpan sejak dini..?
panas dada seakan lahar ingin membela gunung. tapi
Tak jua terbelahkan.
Jiwa tersembunyi dalam kesunyian,
Menjadi rahasia dari kegelapan.
Ketakutan dalam keramaian,
Membuat jiwa terkoyak dalam ketiadaan.
menyesal dengan rencana yg tiada,
melunjak amarah tuk merubah diri, namun
hilang sekejap ketika berhadap dengan orang lain
yang sedang berduka juga... .
dimana nyali,
dimana keberanian yg berkobar,
dimana amarah yg telah tersimpan sejak dini..?
panas dada seakan lahar ingin membela gunung. tapi
Tak jua terbelahkan.
Jiwa tersembunyi dalam kesunyian,
Menjadi rahasia dari kegelapan.
Ketakutan dalam keramaian,
Membuat jiwa terkoyak dalam ketiadaan.
KARENA ADA CINTA
Waktu terus berlalu
Membawa bayangmu bersama hari-hariku
Hempasan angin memanggil yang lalu
Sekedar menyapa rindu dalam jiwa.
Pandangan mata,
Megukir waja yang tersenyum
Membawa sesak, Mengindahkan kesunyian.
Namamu selalu tersebut dalam lisan,
Memberi detak pada ruang kerinduan.
Rasa ini sulit ku bendung
Naluriku terus berkata demikian,
Tanpa hilang dirimmu sesaat.
Namun, kau tak rasa dan tak tahu
Selama ini aku merasakan adanya kebahagiaan
Ceria selalu ada dalam senyumku.
Meski perih aku dapatkan,
Akan tetap aku jalani
Karena adanya cinta yang menantiku,
Mendampingi disepanjang hariku,
Sepanjang waktu, dan
Dimanapun kaki ini melangkah
Engkau selalu ada dihatiku.
Dengan adanya cinta sejati
Aku mencintaimu sepenuh hatiku.
Cinta dan kasih sayang,
Aku serahkan hanya untuk mu,
My heart.
Aku Masih Mencintai Mu
Engkau jauh disana,
Jauh dipenghujung alam sana,
Mungkinkah kita kan bertemu lagi,
Dihari lain, diwaktu lain, ditempat yang sama,
Menjalin hubunngan yang kini sempat terhenti.
Aku mencintaimu,
Itu dari duluh selaluh ada dalam hatiku,
Selaluh ku simpan, ku pegang,
Menjadi penerang jiwa usang nan lesuh ini.
Aku masih mencintaimu,
Saat ini, hari esok, dan sampai waktu yang kan menjemputku pergi nanti,
Aku tahu cerita itu menyakitkan penerimaanku,
Aku juga tahu nada yang kau sampaikan itu
Telah membunuh disetiap hari-hari bahagiaku.
Aku sadar diri ini tak perna membuatmu bahagia
Tak perna bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan,
Aku telah mencobanya, namun aku gagal, dan gagal lagi,
Hatiku cukup tersiksa tentang hal itu,
Cukup menyalahkan dirinya sendiri
Mungkin itu kebodohan dalam cinta ini
Karena tak mampu melihat apa yang kau inginkan.
Aku sempat membencimu, membenci diriku sendiri,
Aku juga sempat ingin berlari
Pergi jauh membuang perasaan ini,
Tapi hati tetap bersamamu,
Tetap mencintaimu
Walau aku tahu penolakan saat itu sangat menyakitkan bagiku,
Membuat rabun hati dari penerangnya,
Mungkinkah kita akan bersama lagi,
Dihari esok, dihari nanti, hingga disaat nafasku kan terhenti.
Aku mencintaimu
Itu perkataan tulusku,
Aku merinduhkanmu
Itu ucapan ketika aku terus mengingatmu,
Aku ingin kembali dan selaluh bersamamu
Itu lantunan disetiap doa dengan pengharapan,
Kau akan kembali.
Aku mungkin tak ada artinya bagimu,
Bunga yang tak perna diharapkan untuk tumbuh,
Mungkin juga aku tak terkenangkan,
Namun perluh engkau ketahui,
Bahwa dirimu selalu istimewa dihatiku.
Tangan ini mungkin jauh dari sampai
Berjabat serta memelukmu disana
Tapi tidak jiwa mu, yang selalu ada dalam dekapan hati.
Cintamu telah mencengkramkan akarnya
Hingga kedalam benakku yang terdalam
Rinduhku selalu ada bersama mu,
Hidup bersama penantianku.
Ingat Daku WahaiDewiku
Mungkin kini, kau telah dengan yang lain,
Telah kau temukan seseorang selain aku
Disana dia yang memeluk dirimu,
Bukan aku...!
Yang hanya memeluk bayang semu darimu.
Kupandang senyummu,
Namun bukan untukku lagi...!
Melainkan untuknya.
Engkau tahu, aku disini selalu merindukanmu,
Selalu memanggil dirimu dalam kosongnya hatiku.
Sekejap kau menyapaku, rasa sakit hilang dalam lamunan
Engkau buat jantung berdegup kencang,
Tapi cinta yang seperti dulu, tak ku harap lagi..?
Bukan karena rasa sayang dalam hatiku telah hilang
Hanya, aku tak ingin luka itu kembali lagi.
Mungkin dialah....
Ya, dialah yang mungkin bisa memberimu lebih,
Yang tak perna engkau dapatkan dariku.
Ingatlah daku wahai dewiku
Meski kau tak bersamaku lagi, kau tetap peri kebahagiaanku.
Lihat aku meski sekejap kau memandang
Karena, aku tak sanggup tuk melupakanmu
Menghapus cinta yang perna ku ukir...!
Peluklah aku, walau hanya dalam lamunanmu.
Sayang....
Angin kan menyapa memberikan kabar
Bahwa bayangmu membuat pagi ku cerah selalu tersenyum.
Sifat-Sifat Golongan Darah AB
Kata kebanyakan
orang sie kalau golongan darah AB itu sangat sedikit, paling banyak dalam
penduduk dunia hanya mendominasi sekitar 4% saja. Itu berarti tidak banyak
manusia diluar sana mempunyai karakter yang sama dengan kpribadian saya :D.
Dalam kasus
ini saya akan mencoba memaparkan sifat-sifat orang yang bergolongan darah AB,
dimana sifat-sifat tersebut adalah sebagai berkut, silakan menyimak. :D
Orang yang
bergolongan darah AB pada umumnya memiliki perasaan yang lembut, namun dibalik
kelembutan mereka juga orang sangat sensitive. Karena sifatnya yang lembut,
mereka dikenal sebagai pribadi yang pemalu. Sifat lembut dan pemalunya tersebut
membuat mereka kurang percaya diri. Maka dari itu mereka cenderung memiliki dua
kepribadian.
Karena sifatnya
yang sensitive mereka adalah orang yang sangat sentiment dan terlalu dalam jika
memikirkan suatu masalah.
Mereka sulit
mengungkapkan perasaan sendiri (cenderung menahan kasih sayang) padahal mereka
adalah orang yang penyanyang. Dalam hal perasaan, mereka termasuk orang yang sangat
perhatian terhadap sesuatu yang mereka sukai. Tapi tidak terlalu peka terhadap
sesuatu. Jika ada diantara kalian yang mempunyai pacar bergolongan AB, sangat
disarankan untuk anda mengatakan secara langsung apa yang anda inginkan (berterus
terang). Mereka adalah pasangan yang baik, tidak perlu anda khawatirkan karena
mereka memiliki sifat yang setia. Yang perlu anda ketahui adalah berhati-hati disaat
menghadapinya ketika mereka sedang bad mood (sebab mereka sangat sensitive).
Sebuah pujian dari
orang lain tidak membuat mereka melayang-layang atau mengudarah, tapi dalam
hati mereka akan sangat mengapresiasi orang yang memberi pujian tersebut.
mereka mempunyai
pola fikir yang unik, memikirkan masalah dari sudut pandang yang berbeda, Analitis,
mendalam, dan penuh pemikiran (ide baru selalu muncul), memiliki banyak impian dan keinginan. Namun dari
sisih kelemahan mereka cenderung orang yang pelupa, dan sering menyimpang dari
realitas.
mereka juga orang
yang perfeksionis (harus sempurna), misalnya, jika mereka sedang menulis atau
membuatkan sesuatu, dan didalamnya terdapat kekurangan atau ada kesalahan,
mereka bakalan mengeditnya hingga ratusan kali, sampai hal tersebut menurutnya
sempurna, seperti halnya saya dalam penulisan ini, jika ada kalimat atau
perkataan yang salah, saya akan berfikir lama dan mengeditnya hingga sempurna (lebay)
:D.
Sifat mereka yang
paling menonjol adalah tenang. Tenang bukan berarti mereka orang yang pendiam. Mereka
adalah orang yang pandai dalam bergaul, maka itu orang yang bergolongan darah
AB memiliki banyak teman. Namun jika mereka mempunyai masalah mereka lebih suka
menyendri untuk memikirkan masalah-masalah mereka daripada berkumpul dengan
temannya.
Karena sifatnya yang tenang, hampir kebanyakan
orang tidak tahu disaat mereka sedang marah. Kecuali mereka update status di
facebook, twitter, dan media sosial lainnya. :D.
Mereka orang
yang baik hati, suka menolong teman-teman yang meminta tolong terhadap mereka.
Tapi mereka sangat sungkan untuk minta tolong pada teman-temannya.
Mereka termasuk
orang yang suka meremehkan diri sendiri, padahal apa yang mereka kerjakan
mungkin lebih baik daripada orang lain, istilahnya rumput tetangga lebih hijau.
Mereka pada umumnya
orang yang tertutup, kalau ada masalah biasanya diumpetin, sangat sulit untuk
bercerita, tapi kalau mereka menceritakan maslahnya, itu pasti pada orang yang sangat
mereka percayai, entah keluarga ataupun teman. Jadi jika anda dicurhati tentang
pribadi mereka, sangat disarankan untuk anda menjaganya dengan baik-baik. Karena
mereka sangat mempercayai anda.
Itulah sedikit pandangan mengenai sifat orang yang bergolongan darah AB. sifat-sifat diatas tidak
mendominasi 100% benar, karena bisa saja berbeda dengan pengaruh lingkungan disekitar
mereka. Tapi, karena saya orang yang bergolongan AB, saya merasa sebagian besar
itu adalah benar. Jika anda bergolongan darah AB, dan merasa ada kesamaan atau
ada yang beda terhadap uraian diatas, silakan beri pendapat pada kolom
komentar, dan jangan lupa di share.
G.A.L.A.U.U.U.U.U.U.U.COM
Malam, ketika aku membuka suatu media sosial yang dikenal dengan sapaan #facebook ini, aku melihat sebuah postingan gambar, dan itu membuatku kembali pada masalaluh, seketika dalam waaktu itu juga kisahmu dulu kembali menyentuh hati.
kemaren-kemaren, lebih tepatnya sekitar dua atau tiga bulan yang laluh, aku tak sengaja aku membuka sebuah account profil yang berhubungan teman dengan account profil mu. aku merasakan ada keistimewaan antara pertemann kalian. dan disaat itu, itu hanya perasangka dalam kekewatiranku.
aku membaca setiap status yang ia tulis setiap kali berkunjung di media sosial ini, dan tak jarang juga aku menemukan nama yang sama dengan nama mu yang tercantum didalam statusnya. aku berharap itu bukan kamu, ya bukan nama mu, tak lebih itu hanya nama yang mirip dengan namamu.
Namun malam ini postingan gambar itu menyadarkanku bahwa itu benar tentang dirimu, dan gambar itu sama persis dengan yang ada didalam Hati ku. itu tak salah lagi. aku tak bisa mengelak untuk hal ini, sebab dirimu telah lama tersimpan dalam hati ini.
saat ini, mungkin perasaan ku sama seperti perasaan mu dulu ketika melihat photo yang berserakan di account facebook ku (ingin menghapusnya atau mungkin ingin membakarnya) dan tak ingin melihatnya lagi. namun ini hanya sebatas keinginanku saja, aku tak mampuh untuk melakukan itu. sebab kini kamu miliknya, begitu juga sebaliknya dia milikmu. dan aku hanya mampu mengatakan aku masih milik mu dan itu tidak sebaliknya.
Aku mencoba menggambarkan perasaan hatiku saat ini. namun imaginasiku terlaluh lemah untuk itu. hatiku masih terlaluh bodoh untuk mengutarakan perasaan yang ada. cemburu, sesal, sakit, atau bahkan kecewa, mungkin itu ada. namun untuk waktu ini aku hanya mampu berlaku sebatas itu.
dulu aku yang meninggalkanmu, dari kampung kekampung lain, dari kota kekota lain, dan kini engkau berlaku sebaliknya, meninggalkan ku dari hati ke hati lain.
untuk menguatkan hati, aku hanya bisa berucap, kalau dia tidak lebih baik dari pada diriku, hanya saja dia lebih beruntung daripada diriku. yang mampu membawamu ke #Menara_eiffel (Palembang).
mungkin benar apa yang dikatakan mereka tentang diriku, aku hanya bisa berkeinginan dan tak mampuh mewujudkan keinginan. persisnya seperti mimpi dalam tidur, laluh tidur dalam mimpi, dan bermimpi lagi. tak mungkin terjadi untuk membuatnya nyata.
G.A.L.A.U.U.U.U.U.U.U.COM (kata orang-orang sieh seperti itu) my be yes, my be no. mungkin ia, mungkin juga tidak, tapi yang aku rasakan yaaaaa demikian adanya.
:D
#515_417
Subscribe to:
Comments (Atom)