Ingin Bertanya (Dahulu Hingga Kini)
Dunia sekarang hanya persiapan untuk dunia selanjutnya,
yang bisa kita harapkan bagaimana hidup saling mencinta dan dicintai. Pada
hati yang diam dan senduh dalam perenungan, Aku ingin bertanya....? Dahulu hingga kini suara hatiku piluh, dan kesah kerana itu cinta, dan nista itu masih bersama ku hingga
saat ini.
Ketika
waktu membuaiku dalam kenangan, bukan hasrat ingin bermain kata menulis puisi
cinta.
Tapi
ini penyangga jiwa yang layu,
bersandar bercumbuh kasih. Sajak demi
sajak terurai
dalam bahasa piluh sebagai pengganti ayat-ayat cinta penenang jiwa.
Kata
demi kata yang terucap
hanyalah wujud dari dirimu. Semuanya tak indah aku tak mengelak jika ada kata yang sering membuatmu
sakit, dan itu sering terbuatkan oleh ku tanpa sadar mau-pun tak sadar. Tapi setiap
yang keluar dari helaian nafas adalah segala bentuk kasih terhadapmu. Hatiku
piluh mengenang nostalgia cinta yang terbenam
dibenaknya, itu adalah kenangan yang terkenang, itu adalah bahagia yang hilang,
dan itu adalah kamu yang
kini hidup dalam sepihku.
Kehilangan
cinta mungkin adalah hal yang biasa dalam dunia percintaan, namun untuk ku kehilangan
cinta darimu bukanlah hal biasa yang harus aku rasakan. Aku tak perna
mempersiapkan diri untuk kehilangan mu, dan kini diriku laksana daun kering yang berterbangan, terombang-ambing dalam
naungan badai, bingung, tidak tahu kemana diriku akan dicampakkan.
Tak
ada yang dapat menyalahi lumrah insani yang indah di helaian kutub hati. Satu
persatu huruf-huruf tersusun menjadikannya indah dalam makna prasa. Bukan puisi
tentang cinta ini hanya bait hati yang tertuang dengan tulus. Aku jujur, inginnya
engkau juga demikian, tanpa tahu tentang hiba hinanya aku.
Aku
ingin bertanya,.....? Adakah
engkau tak pernah terfikirkan tentang aku....? Apakah engkau tak pernah terlintas
akan nama ku, senyum ku, kasih sayang ku ditempat bermain jalanan hari-hari mu....? Tak
adakah sekelumit kenangan antara kita yang bisa membuat bibirmu sidikit
tersenyum....?
Aku
ingin bercerita...?
Tentang
diriku, tentang rinduh yang bersemanyam dalam hati ini. Rinduhku dengan mu senantiasa menegurku. Terkadang sikapmu yang seakan tak peduli, ada yang berlalu melintasi hari-hariku, menyelam kedasar
dikedalaman lautan hati. Aku mengikutinya dalam diam sambil menerka apa yang kau
inginkan. Sambil menyeduh kenangan lalu, menghirup sari cinta disaat kita
bercumbuh kasih, tanpa sedar airmata ku jatuh mengalir
dipelipis wajah yang duluhnya perna kau sentuh. Ingatkah engkau ketika aku tertidur disampingmu, disaat kita tersesat disebuah perkebunan. Aku mengingatmu, mengingat tentangmu, sungguh hatiku rinduh ingin
mencumbui cintaku padamu. Dirimu yang ku ingat, yang bersemanyam dalam sanubari kecilku. Ku ingin kau tahu tentang ku, tentang cinta yang selama ini
ku
simpan.
Aku
ingin bertanya lagi padamu.....? Bahagiakah engkau disana...? Tersenyumkah
engkau disana...? atau tertawakah engkau disana,ditempat yang tanpa diriku...?
Sudah bertemukah engkau dengan selaut bahagia yang kau cari, seluas angkasa indah yang engkau dambakan, sejuta ketenangan
hati yang engkau
impikan...?
Boleh
aku bercerita lagi padamu...?
Aku
rindu, rindu yang selalu memandangmu dihatiku. Aku tak tahu engkau milik siapa nantinya,
aku ataukah mereka. Jika nanti kau telah memutuskan, ku kan terima
dengan hati yang suci. Ikhlas sebab
melihat senyum diwajamu. Dan ketika itu juga aku menjauhkan diri
membawa kata hiba untuk hati
ini.
Biar ku pandang engkau laksana bintang yang jauh disana, bercahaya gembira menghiasi malam. Dan sesungguhnya
aku ingin
berada disampingmu ikut gembira gemerlipan bintang. Namun ku
pilih melihat mu
dari kejauhan,
demi gembira mu
wahai bidadari. Aku mencintaimu itu sikap yang ku tunjukan
dari tulusku, namun apa hendak dikata jika takdir meminta kau tak berkata sama
dengan ku. Aku tetap mencintaimu walau demikian. Akan ku cari dirimu melewati
seribu dunia dan sepuluh ribu kehidupan selanjutnya, sampai takdir lelah
menjauhkan dirimmu dariku. Aku akan mencarimu disemua kehidupan itu, hingga
takdir berkata lain, dan menyatuhkan ku dengan mu dikehidupan selanjutnya.
Dirimu adalah hidupku, tempat nyaman istana hatiku.
Bolehkah aku
bertanya lagi....? Kenapa airmata ku mengalir ketika aku menuangkan kata hati ini, menitipkan kata monolog jiwa ini...? Sengsarakah diriku...? Dapatkah engkau menjawabnya....?
Curhatan (Goresan Piluh)
Aku seperti bait puisi bisu,
kesepian dalam bingkisan kalbuh,
setiap kali mendengar nyanyian rindu,
liri hatiku terus piluh.
lembar demi lembar goresan berlalu,
memaknai bintang, bersinar tak memahami.
ku coba mencerna isyarat hati,
semakin mencerna bahasa piluhku menguasai
aku... aku bingung harus gimana...!
mengikuti kata hati, membui asahku.
tuhan, dengarlah curhatan batin ini,
aku bingung dalam menerka,
tentang cinta yang bersarang dalam hati.
aku bingung tuhan....
tentang apa artinya cinta,
yang memeras habis masa indah ku diwaktu laluh,
membakar setiap rongga dada,
yang panasnya tak tahu malu.
aku bingung tuhan...
yang mahkota cinta kau tanam dalam istana insani,
sampai hati bertindak sebagai tirani.
tuhan...
apa maknanya cinta..?
hingga ucapan menggelembung dalam lamunan.
tuhan....?
adakah bintang yang sama akan mendengar,
meneteskan embun, menyejukan hati.
ini sudah cukup pedih,
ku rasa hati akan menikmatinya sampai mati.
GURINDAM
Saat gurindam menyampaikan pesan
mata terpejam mendengar tangisan
bagai angin membawakan hujan
membasuh jiwa hingga kesakitan
mendengar kata dari serpihan mantra
membuat dada, goncang akan itu kata
sambil terbata hati berkata
tak sanggup lagi hati berlumur dosa
dalam sesal hati mengelu
tentang buruk perjalanan waktu
adakah sinar akan hal itu
agar hati tak lagi mengerutu
untung datang si penjual ikan
membawah hasil dari lautan
tak disangka ialah kawan
memberi gurindam menyampaikan pesan
jaganlah mengeluh wahai tuan
marilah menghadap ke arah tuhan
iya tahu segala kearifan
bertobat pastilah dimaafkan.
Medan, 02 Maret 2014
DALAM LAMUNAN
Malam
makin menunjukan kepekatannya, malam ini malam minggu yang seharusnya malam ku berduaan
bersamamu, duduk berdamping memaduh kasih tanpa resah dan kegelisahan sang
malam, berdempet posisi tanpa ada celah pemisa antara aku dan kamu.
Sebentar-sebentar
aku pergi kearah pintu, melihat mereka yang sedang memaduh kasih, bercerita
hangat dalam sebuah pelukan malam. Aku irih pada mereka, yang dimalam minggu selaluh
berduaan bersama kekasihnya, bercerita bersama, ketawa bersama, canda bersama,
mengukir kisah romatis diwaktu yang sama. Hemmmzzzzz dalam hati ku seolah tak
ada hentinya membaca do’a, meletakkan disetiap namamu diujung bulir-bulir
tasbinya yang terucap.
Aku
ingin seperti mereka, namun itu hanyalah ilusi berupa hayalan yang memanjakan
waktu ku saat ini. Hanya sebuah harapan yang tidak aku ketahui dimana letak
titik akhir ia akan berhenti, tak ada symbol atau kode yang memberikan tanda
bahwa ini akan berakhir. Semacam mengikuti putaran jarum jam yang tertempel
didinding kamarku, ia terus berkeliling dari waktu ke waktu dikejadian yang
sama dan tempat yang sama tanpa berhenti walau malam telah terlelap dalam mimpi.
Ini kenyataan, buktinya aku masih disini, masih diatas hangatnya kursi yang
telah lama ku duduki sedari tadi, mungkin kalau saja kursi ini bisa menjerit,
ia telah berteriak tentang kebosanannya memangkuh pantatku. Sedangkan aku terus
sibuk mencari kisah yang ingin ku abadikan didalam sebuah tulisan ini, aku
ingin menulis lepas seperti penulis yang dengan mudah mengalirkan tintanya
diatas selembaran kisah tentang kehidupan, namun aku tak dapat meniruh jalan
mereka dalam menguraikan sebuah kisah.
Aku
terus mencoba memasuki diriku sendiri untuk mengambil detik demi detik kisah
yang mungkin bersedia untuk ku abadikan dalam kisahku malam ini.
Kopi
telah berapa gelas ku habisi, rokok sebatang demi sebatang berlaluh habis termakan
api, walau perlahan terhisap, asapnya menebar mengkabutkan ruangan, seolah
menghalang jalannya imajinasiku dalam berlayar. Harap berganti harap supaya
imajinasiku mampu bermain dalam manjaan hanyalku, namun itu belum juga cukup tajam
mengupas dinding yang memenjarahkan ku, padahal tubuh ini telah ku telanjangi,
telah ku lepas jubah kekecewaan yang membelengguhku dari masalah-masalah
kehidupan, telah ku kuliti sekujur tubuh ini dengan imajinasi perasa, telah ku
lepas semua keresahan diri yang mengurungku dari rasa ketenangan jiwa, namun
masih tak mampu juga aku menembus ruang-ruang penjelajahan riwayatku.
Pilihanku
malam ini ingin mengukirkan kisahmu dan kisahku yang berkalborasi dalam sebuah
ikatan cinta, ku ingin menciptakannya dengan jari-jariku sendiri tentang kisah
kita, dengan membiarkan daya khayalku menjelajah masa lampau yang mengulang
riwayat waktu ketika aku bersamamu. Ini pilihan bukan tanpa pertimbangan, telah
ku coba lari dari bayanganmu, namun diujung malam ditempat perenungan ku ini
terus menyebut namamu wahai kasih. Ku nikmati cumbuan malam ini bersamamu, ku
sambut bahagia bayangmu hadir disisi.
Seharusnya
malam ini aku menelpone mu, bertanya “kamu lagi apa, dimana, dan sama siapa,
atau sekedar menanyakan tentang kabar dihari-harimu”. Tapi entah kenapa dari
hari kemaren sampai saat ini hatiku lemah, jiwaku sepih, aku merasa ingin
sendirian tanpa ada yang menggangguku, termasuk denganmu, yang padahal
kesunyianku telah sadar bahwa aku telah berada didalam sepih. Bukan aku lari
pergi darimu atau melupakanmu, kamu tetap ada bersamaku selalu menemani
disetiap helaian lamanuanku.
Mereka,
dia yang ada disekitarku malam ini, melihatku dengan keanehan, kadang mereka
tertawa, kadang tersenyum, mengejek dengan kata lembut, namun tiada ku peduli.
Ku ingin tetap dalam posisiku, tak ingin lepas dari rasa bahagia becumbuh
dengan mu, ku tahu ini khayal, ku sadar ini ilusi, namun ku tak ingin hilang
walau sekejap bersama bayangmu. Ku ingat masa kita berdua, duduk bersama,
ketawa bersama, berbincang ngelantur kesana kemari, kadang terhenti kau
menatapku dengan tersenyum, meski terkadang aku juga sering terdiam menatap
polos raut wajahmu, ku tersenyum kasih.
Jika
ini adalah sebuah mimpi bagi diriku, aku tak ingin terbangun dari tidur ini,
walau ku tahu ini sebuah ilusi khayalan yang mengajak imajinasiku bermain dalam
bayanganmu, aku tak ingin terlaluh cepat sedar dari tempat perenungan ini.
Ingatkah
engkau dengan ku kasih, ataukah engkau sedang merasakan hal yang sama seperti
kondisiku saat ini, ku harap memang demikian adanya. Jika memang iya, aku
senang mendengarnya.
Wahaii
gadis kecil berwajah bidadari, kau seperti tuan putri didunia khayangan yang
diberi izin lahir ke bumi. Kau semacam mahkota yang tak boleh disentuh oleh
siapa-pun selain pangerannya sendiri. Aku ingin jujur dalam kebisuanku, melalui tulisan ini aku
menceritakan tentang kenyataan cintaku dan kamu, aku tak perna berbohong dalam
perenungan, walau terkadang aku sering tak jujur dengan kenyataan. Aku tahu
siapa aku, walau sering aku tak mengerti bagaimana aku, aku harus mengatakan
hal ini padamu, tentang kenyataanku dan cintaku atas dirimu.
Ini
segelintir kisah dalam perenunganku saat mengingatmu, cerita ini cerita laluh,
yang tak sama sekali berharga dalam hidupmu, mungkin juga kamu telah lupa. Tapi
tidak dengan ku, ini kisah terindah dalam perjalananku, selalu ku simpan dalam
memori ingatanku. Dan juga karena sepenggal kisah ini membuatku mampu bertahan
hingga saat ini, dan berharap akan abadi sampai liang lahat menguburku dalam
kematian.
Hari
itu, aku mengantarmu pulang kerumah, bukan yang pertama mungkin entah yang
keberapa kali, aku lupa itu hari yang keberapa aku mengantarmu. Aku senang
melakukannya walau setiap hari aku harus antar jemput. Diatas sepeda motor yang
kita tunnggangi aku kebanyakan tersenyum daripada bicara. Dari hati ku mencoba
untuk mengatakan sesuatu yang tak perna aku mengerti dari mana datangnya, entah
badai apa yang menggulungku hingga remuk dalam asmara ini. Mungkin saat itu
engkau telah tahu tentang apa yang ingin ku sampaikan, namun kita sama-sama
masuk kedalam suasana yang membisu. Kira-kira sudah dekat kearah rumahmu, aku
mencoba memberanikan diri untuk bertanya “malam ini sepertinya malam apa..?, dan
adakah malam ini tamu mu datang kerumah
untuk menemui mu…?” engkau menjawabnya dengan singkat, namun penuh kejelasan,
aku mendengarnya seakan melayang keudarah yang wangiannya ditaburi dari seribu
bunga. Ini kesempatan emas dalam hatiku berbisik, seketika engkau mengantarkan
pertanyaan yang membuatku kebingungan dan gugup untuk menjawab apa. Saat itu,
kali pertama aku membohongimu, dengan mengatakan kalau ada seorang teman dariku
yang menyukaimu, namun ia sulit untuk mengatakannya secara langsung. Saat
itulah aku membohongimu dan menyakiti hatiku sendiri, hanya karena aku ingin
kerumahmu malam itu.
Engkau
seolah penasaran dengan temanku yang menyukaimu itu, dan mengizinkan aku untuk
datang kerumah mengajaknya malam ini. Tak begitu banyak obrolan terurai
disepanjang jalan, kita telah sampai didepan rumahmu. Engkau-pun langsung turun
dan menitipkan senyum padaku sebelum aku juga berangkat pulang kerumah, aku-pun
membalasnya dengan tersenyum, namun dibaliknya aku simpan kebingungan untuk
menghadapi kebohonganku terhadapmu tadi.
Karena
hari telah senja, malam-pun begitu cepat datang menjemputku, seakan senyum yang
kau titipkan padaku didepan rumahmu tadi telah menggil, menjemputku untuk
datang. Untuk menemuimu malam itu aku seolah menjadi pangeran yang tak ingin
lupa sedikit-pun asesoris yang melengkapi jubahku. Rambutku adalah seperti
mahkota yang selalu diperhatikan oleh orang-orang yang tinggal diistana,
sehingga aku merapihkannya serapih mungkin, dengan harapan engkau akan melihatku
sama seperti orang-orang diistana memperhatikan mahkota yang terpasang diatas
kepala pangerannya. Baju, celana, serta parfum yang aku pakai telah sedemikian
rapih dan wangi, aku tak ingin malam ini engkau melihatku seperti gembel
dijalanan, malam ini adalah malam pertamaku yang akan menyatuhkan tapak kaki ini
diatas lantai istana mu.
Hemmzzzz
malam itu, malam yang menakutkan bagiku, bukan karena menemuinya, tapi ketakutanku
karena harus menemui diriku sendiri.
Gedor
demi gedor, salam demi salam, ku ucapkan Assalamualaikum tepat didepan pintu
rumahmu. Ada suara jawaban terdengar, namun suara cowok, mungkin itu adalah
suara kakak mu, ternyata benar, dia-pun membuka pintu, dan bertanya “Ada apa”,
dengan hati yang gerogi aku memberanikan diri padanya untuk mempertanyakan
dimana keberadaanmu. Aku melihat keramahan diwajah kakak mu, sehingga rasa
takut dalam diri pun jadi hilang. Kakak mu langsung menggilmu dan berkata ada
kawanmu diluar”, engkau menyahutnya dengan “Iya, tunggu sebentar”. Suara merdu itu
membuatku tetap berdiri menunggumu
menyambut kedatanganku dirumahmu malam itu. Engkau keluar membuka pintu,
dalam hatiku berdoa semoga engkau juga membukakan pintu hatimu untukku,
hehehe….J dan menyambutku
sama halnya seperti didepan pintu ini, dengan tersenyum J.
Waaahhhhh,
karena keasyikan terjun dalam lamunan yang menceritakan kisahku dengan dirimu,
aku jadi lupa keberadaanku saat ini. Orang-orang yang disekelilingku tak ku
cakapi walau sekata ucapan-pun, terkadang mereka bertanya, Tidak ku jawab
sebutir huruf-pun yang terlontar dari bibirku. Mungkin mereka sakit hati dengan
sikapku yang demikian, tapi biarlah, mereka juga akan mengerti jika suatu saat
sebuah cinta menerpa dinding hatinya.
Aku
tidak menginginkan hal ini, namun bila aku telah terjun dan tenggelam dalam
lamunan bersamanya, jiwaku tak mampu lagi keluar serta imajinasiku tak sanggup
mengelak atas apa yang telah ia taburi diatas ubun-ubunku. Ini adalah
sebahagian risiko dalam menjalankan hubungan jarak jauh, yang dipisahkan oleh
gunung dan air, samudra dan pulau, oleh lautan dan juga pantai, yang hanya
mampu bercinta dalam lamunan, dan khayal.
Jika
ini sebuah kesalahan, aku harap kalian tidak menemukan kisah cinta sepertiku
saat ini dan juga tidak menjalankannya seperti yang aku jalankan sekarang ini,
sebab ini sangat menyakitkan..
Medan, 2 November 2013
Subscribe to:
Comments (Atom)