0
COM

Ingin Bertanya (Dahulu Hingga Kini)

0
COM
Dunia sekarang hanya persiapan untuk dunia selanjutnya, yang bisa kita harapkan bagaimana hidup saling mencinta dan dicintai. Pada hati yang diam dan senduh dalam perenungan, Aku ingin bertanya....? Dahulu hingga kini suara hatiku piluh, dan kesah kerana itu cinta, dan nista itu masih bersama ku hingga saat ini.
Ketika waktu membuaiku dalam kenangan, bukan hasrat ingin bermain kata menulis puisi cinta. Tapi ini penyangga jiwa yang layu, bersandar bercumbuh kasih. Sajak demi sajak terurai dalam bahasa piluh sebagai pengganti ayat-ayat cinta penenang jiwa.
Kata demi kata yang terucap hanyalah wujud dari dirimu. Semuanya tak indah aku tak mengelak jika ada kata yang sering membuatmu sakit, dan itu sering terbuatkan oleh ku tanpa sadar mau-pun tak sadar. Tapi setiap yang keluar dari helaian nafas adalah segala bentuk kasih terhadapmu. Hatiku piluh mengenang nostalgia cinta yang terbenam dibenaknya, itu adalah kenangan yang terkenang, itu adalah bahagia yang hilang, dan itu adalah kamu yang kini hidup dalam sepihku.
Kehilangan cinta mungkin adalah hal yang biasa dalam dunia percintaan, namun untuk ku kehilangan cinta darimu bukanlah hal biasa yang harus aku rasakan. Aku tak perna mempersiapkan diri untuk kehilangan mu, dan kini diriku laksana daun kering yang berterbangan, terombang-ambing dalam naungan badai, bingung, tidak tahu kemana diriku akan dicampakkan.
Tak ada yang dapat menyalahi lumrah insani yang indah di helaian kutub hati. Satu persatu huruf-huruf tersusun menjadikannya indah dalam makna prasa. Bukan puisi tentang cinta ini hanya bait hati yang tertuang dengan tulus. Aku jujur, inginnya engkau juga demikian, tanpa tahu tentang hiba hinanya aku.
Aku ingin bertanya,.....? Adakah engkau tak pernah terfikirkan tentang aku....? Apakah engkau tak pernah terlintas akan nama ku, senyum ku, kasih sayang ku ditempat bermain jalanan hari-hari mu....? Tak adakah sekelumit kenangan antara kita yang bisa membuat bibirmu sidikit tersenyum....?
Aku ingin bercerita...? Tentang diriku, tentang rinduh yang bersemanyam dalam hati ini. Rinduhku dengan mu senantiasa menegurku. Terkadang sikapmu yang seakan tak peduli, ada yang berlalu melintasi hari-hariku, menyelam kedasar dikedalaman lautan hati. Aku mengikutinya dalam diam sambil menerka apa yang kau inginkan. Sambil menyeduh kenangan lalu, menghirup sari cinta disaat kita bercumbuh kasih, tanpa sedar airmata ku jatuh mengalir dipelipis wajah yang duluhnya perna kau sentuh. Ingatkah engkau ketika aku tertidur disampingmu, disaat kita tersesat disebuah perkebunan. Aku mengingatmu, mengingat tentangmu, sungguh hatiku rinduh ingin mencumbui cintaku padamu. Dirimu yang ku ingat, yang bersemanyam dalam sanubari kecilku. Ku ingin kau tahu tentang ku, tentang cinta yang selama ini ku simpan.
Aku ingin bertanya lagi padamu.....?  Bahagiakah engkau disana...? Tersenyumkah engkau disana...? atau tertawakah engkau disana,ditempat yang tanpa diriku...? Sudah bertemukah engkau dengan selaut bahagia yang kau cari, seluas angkasa indah yang engkau dambakan, sejuta ketenangan hati yang engkau impikan...?
Boleh aku bercerita lagi padamu...?
Aku rindu, rindu yang selalu memandangmu dihatiku. Aku tak tahu engkau milik siapa nantinya, aku ataukah mereka. Jika nanti kau telah memutuskan, ku kan terima dengan hati yang suci. Ikhlas sebab melihat senyum diwajamu. Dan ketika itu juga aku menjauhkan diri membawa kata hiba untuk hati ini.
Biar ku pandang engkau laksana bintang yang jauh disana, bercahaya gembira menghiasi malam. Dan sesungguhnya aku ingin berada disampingmu ikut gembira gemerlipan bintang.  Namun ku pilih melihat mu dari kejauhan, demi gembira mu wahai bidadari. Aku mencintaimu itu sikap yang ku tunjukan dari tulusku, namun apa hendak dikata jika takdir meminta kau tak berkata sama dengan ku. Aku tetap mencintaimu walau demikian. Akan ku cari dirimu melewati seribu dunia dan sepuluh ribu kehidupan selanjutnya, sampai takdir lelah menjauhkan dirimmu dariku. Aku akan mencarimu disemua kehidupan itu, hingga takdir berkata lain, dan menyatuhkan ku dengan mu dikehidupan selanjutnya. Dirimu adalah hidupku, tempat nyaman istana hatiku.
Bolehkah aku bertanya lagi....? Kenapa airmata ku mengalir ketika aku menuangkan kata hati ini, menitipkan kata monolog jiwa ini...? Sengsarakah diriku...? Dapatkah engkau menjawabnya....?

Curhatan (Goresan Piluh)

0
COM

Aku seperti bait puisi bisu,
kesepian dalam bingkisan kalbuh,
setiap kali mendengar nyanyian rindu,
liri hatiku terus piluh.

lembar demi lembar goresan berlalu,
memaknai bintang, bersinar tak memahami.
ku coba mencerna isyarat hati,
semakin mencerna bahasa piluhku menguasai
aku... aku bingung harus gimana...!
mengikuti kata hati, membui asahku.
tuhan, dengarlah curhatan batin ini,
aku bingung dalam menerka,
tentang cinta yang bersarang dalam hati.
aku bingung tuhan....
tentang apa artinya cinta,
yang memeras habis masa indah ku diwaktu laluh,
membakar setiap rongga dada,
yang panasnya tak tahu malu.
aku bingung tuhan...
yang mahkota cinta kau tanam dalam istana insani,
sampai hati bertindak sebagai tirani.
tuhan...
apa maknanya cinta..?
hingga ucapan menggelembung dalam lamunan.

tuhan....?
adakah bintang yang sama akan mendengar,
meneteskan embun, menyejukan hati.
ini sudah cukup pedih,
ku rasa hati akan menikmatinya sampai mati.

GURINDAM

0
COM

Saat gurindam menyampaikan pesan
mata terpejam mendengar tangisan
bagai angin membawakan hujan
membasuh jiwa hingga kesakitan

mendengar kata dari serpihan mantra
membuat dada, goncang akan itu kata
sambil terbata hati berkata
tak sanggup lagi hati berlumur dosa

dalam sesal hati mengelu
tentang buruk perjalanan waktu
adakah sinar akan hal itu
agar hati tak lagi mengerutu

untung datang si penjual ikan
membawah hasil dari lautan
tak disangka ialah kawan
memberi gurindam menyampaikan pesan

jaganlah mengeluh wahai tuan
marilah menghadap ke arah tuhan
iya tahu segala kearifan
bertobat pastilah dimaafkan.


Medan, 02 Maret 2014

DALAM LAMUNAN

0
COM
Malam makin menunjukan kepekatannya, malam ini malam minggu yang seharusnya malam ku berduaan bersamamu, duduk berdamping memaduh kasih tanpa resah dan kegelisahan sang malam, berdempet posisi tanpa ada celah pemisa antara aku dan kamu.
Sebentar-sebentar aku pergi kearah pintu, melihat mereka yang sedang memaduh kasih, bercerita hangat dalam sebuah pelukan malam. Aku irih pada mereka, yang dimalam minggu selaluh berduaan bersama kekasihnya, bercerita bersama, ketawa bersama, canda bersama, mengukir kisah romatis diwaktu yang sama. Hemmmzzzzz dalam hati ku seolah tak ada hentinya membaca do’a, meletakkan disetiap namamu diujung bulir-bulir tasbinya yang terucap.
Aku ingin seperti mereka, namun itu hanyalah ilusi berupa hayalan yang memanjakan waktu ku saat ini. Hanya sebuah harapan yang tidak aku ketahui dimana letak titik akhir ia akan berhenti, tak ada symbol atau kode yang memberikan tanda bahwa ini akan berakhir. Semacam mengikuti putaran jarum jam yang tertempel didinding kamarku, ia terus berkeliling dari waktu ke waktu dikejadian yang sama dan tempat yang sama tanpa berhenti walau malam telah terlelap dalam mimpi. Ini kenyataan, buktinya aku masih disini, masih diatas hangatnya kursi yang telah lama ku duduki sedari tadi, mungkin kalau saja kursi ini bisa menjerit, ia telah berteriak tentang kebosanannya memangkuh pantatku. Sedangkan aku terus sibuk mencari kisah yang ingin ku abadikan didalam sebuah tulisan ini, aku ingin menulis lepas seperti penulis yang dengan mudah mengalirkan tintanya diatas selembaran kisah tentang kehidupan, namun aku tak dapat meniruh jalan mereka dalam menguraikan sebuah kisah.
Aku terus mencoba memasuki diriku sendiri untuk mengambil detik demi detik kisah yang mungkin bersedia untuk ku abadikan dalam kisahku malam ini.
Kopi telah berapa gelas ku habisi, rokok sebatang demi sebatang berlaluh habis termakan api, walau perlahan terhisap, asapnya menebar mengkabutkan ruangan, seolah menghalang jalannya imajinasiku dalam berlayar. Harap berganti harap supaya imajinasiku mampu bermain dalam manjaan hanyalku, namun itu belum juga cukup tajam mengupas dinding yang memenjarahkan ku, padahal tubuh ini telah ku telanjangi, telah ku lepas jubah kekecewaan yang membelengguhku dari masalah-masalah kehidupan, telah ku kuliti sekujur tubuh ini dengan imajinasi perasa, telah ku lepas semua keresahan diri yang mengurungku dari rasa ketenangan jiwa, namun masih tak mampu juga aku menembus ruang-ruang penjelajahan riwayatku.
Pilihanku malam ini ingin mengukirkan kisahmu dan kisahku yang berkalborasi dalam sebuah ikatan cinta, ku ingin menciptakannya dengan jari-jariku sendiri tentang kisah kita, dengan membiarkan daya khayalku menjelajah masa lampau yang mengulang riwayat waktu ketika aku bersamamu. Ini pilihan bukan tanpa pertimbangan, telah ku coba lari dari bayanganmu, namun diujung malam ditempat perenungan ku ini terus menyebut namamu wahai kasih. Ku nikmati cumbuan malam ini bersamamu, ku sambut bahagia bayangmu hadir disisi.
Seharusnya malam ini aku menelpone mu, bertanya “kamu lagi apa, dimana, dan sama siapa, atau sekedar menanyakan tentang kabar dihari-harimu”. Tapi entah kenapa dari hari kemaren sampai saat ini hatiku lemah, jiwaku sepih, aku merasa ingin sendirian tanpa ada yang menggangguku, termasuk denganmu, yang padahal kesunyianku telah sadar bahwa aku telah berada didalam sepih. Bukan aku lari pergi darimu atau melupakanmu, kamu tetap ada bersamaku selalu menemani disetiap helaian lamanuanku.
Mereka, dia yang ada disekitarku malam ini, melihatku dengan keanehan, kadang mereka tertawa, kadang tersenyum, mengejek dengan kata lembut, namun tiada ku peduli. Ku ingin tetap dalam posisiku, tak ingin lepas dari rasa bahagia becumbuh dengan mu, ku tahu ini khayal, ku sadar ini ilusi, namun ku tak ingin hilang walau sekejap bersama bayangmu. Ku ingat masa kita berdua, duduk bersama, ketawa bersama, berbincang ngelantur kesana kemari, kadang terhenti kau menatapku dengan tersenyum, meski terkadang aku juga sering terdiam menatap polos raut wajahmu, ku tersenyum kasih.
Jika ini adalah sebuah mimpi bagi diriku, aku tak ingin terbangun dari tidur ini, walau ku tahu ini sebuah ilusi khayalan yang mengajak imajinasiku bermain dalam bayanganmu, aku tak ingin terlaluh cepat sedar dari tempat perenungan ini.
Ingatkah engkau dengan ku kasih, ataukah engkau sedang merasakan hal yang sama seperti kondisiku saat ini, ku harap memang demikian adanya. Jika memang iya, aku senang mendengarnya.
Wahaii gadis kecil berwajah bidadari, kau seperti tuan putri didunia khayangan yang diberi izin lahir ke bumi. Kau semacam mahkota yang tak boleh disentuh oleh siapa-pun selain pangerannya sendiri. Aku ingin jujur  dalam kebisuanku, melalui tulisan ini aku menceritakan tentang kenyataan cintaku dan kamu, aku tak perna berbohong dalam perenungan, walau terkadang aku sering tak jujur dengan kenyataan. Aku tahu siapa aku, walau sering aku tak mengerti bagaimana aku, aku harus mengatakan hal ini padamu, tentang kenyataanku dan cintaku atas dirimu.
Ini segelintir kisah dalam perenunganku saat mengingatmu, cerita ini cerita laluh, yang tak sama sekali berharga dalam hidupmu, mungkin juga kamu telah lupa. Tapi tidak dengan ku, ini kisah terindah dalam perjalananku, selalu ku simpan dalam memori ingatanku. Dan juga karena sepenggal kisah ini membuatku mampu bertahan hingga saat ini, dan berharap akan abadi sampai liang lahat menguburku dalam kematian.
Hari itu, aku mengantarmu pulang kerumah, bukan yang pertama mungkin entah yang keberapa kali, aku lupa itu hari yang keberapa aku mengantarmu. Aku senang melakukannya walau setiap hari aku harus antar jemput. Diatas sepeda motor yang kita tunnggangi aku kebanyakan tersenyum daripada bicara. Dari hati ku mencoba untuk mengatakan sesuatu yang tak perna aku mengerti dari mana datangnya, entah badai apa yang menggulungku hingga remuk dalam asmara ini. Mungkin saat itu engkau telah tahu tentang apa yang ingin ku sampaikan, namun kita sama-sama masuk kedalam suasana yang membisu. Kira-kira sudah dekat kearah rumahmu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya “malam ini sepertinya malam apa..?, dan adakah malam ini tamu mu  datang kerumah untuk menemui mu…?” engkau menjawabnya dengan singkat, namun penuh kejelasan, aku mendengarnya seakan melayang keudarah yang wangiannya ditaburi dari seribu bunga. Ini kesempatan emas dalam hatiku berbisik, seketika engkau mengantarkan pertanyaan yang membuatku kebingungan dan gugup untuk menjawab apa. Saat itu, kali pertama aku membohongimu, dengan mengatakan kalau ada seorang teman dariku yang menyukaimu, namun ia sulit untuk mengatakannya secara langsung. Saat itulah aku membohongimu dan menyakiti hatiku sendiri, hanya karena aku ingin kerumahmu malam itu.
Engkau seolah penasaran dengan temanku yang menyukaimu itu, dan mengizinkan aku untuk datang kerumah mengajaknya malam ini. Tak begitu banyak obrolan terurai disepanjang jalan, kita telah sampai didepan rumahmu. Engkau-pun langsung turun dan menitipkan senyum padaku sebelum aku juga berangkat pulang kerumah, aku-pun membalasnya dengan tersenyum, namun dibaliknya aku simpan kebingungan untuk menghadapi kebohonganku terhadapmu tadi.
Karena hari telah senja, malam-pun begitu cepat datang menjemputku, seakan senyum yang kau titipkan padaku didepan rumahmu tadi telah menggil, menjemputku untuk datang. Untuk menemuimu malam itu aku seolah menjadi pangeran yang tak ingin lupa sedikit-pun asesoris yang melengkapi jubahku. Rambutku adalah seperti mahkota yang selalu diperhatikan oleh orang-orang yang tinggal diistana, sehingga aku merapihkannya serapih mungkin, dengan harapan engkau akan melihatku sama seperti orang-orang diistana memperhatikan mahkota yang terpasang diatas kepala pangerannya. Baju, celana, serta parfum yang aku pakai telah sedemikian rapih dan wangi, aku tak ingin malam ini engkau melihatku seperti gembel dijalanan, malam ini adalah malam pertamaku yang akan menyatuhkan tapak kaki ini diatas lantai istana mu.
Hemmzzzz malam itu, malam yang menakutkan bagiku, bukan karena menemuinya, tapi ketakutanku karena harus menemui diriku sendiri.
Gedor demi gedor, salam demi salam, ku ucapkan Assalamualaikum tepat didepan pintu rumahmu. Ada suara jawaban terdengar, namun suara cowok, mungkin itu adalah suara kakak mu, ternyata benar, dia-pun membuka pintu, dan bertanya “Ada apa”, dengan hati yang gerogi aku memberanikan diri padanya untuk mempertanyakan dimana keberadaanmu. Aku melihat keramahan diwajah kakak mu, sehingga rasa takut dalam diri pun jadi hilang. Kakak mu langsung menggilmu dan berkata ada kawanmu diluar”, engkau menyahutnya dengan “Iya, tunggu sebentar”. Suara merdu itu membuatku tetap berdiri menunggumu  menyambut kedatanganku dirumahmu malam itu. Engkau keluar membuka pintu, dalam hatiku berdoa semoga engkau juga membukakan pintu hatimu untukku, hehehe….J dan menyambutku sama halnya seperti didepan pintu ini, dengan tersenyum J.
Waaahhhhh, karena keasyikan terjun dalam lamunan yang menceritakan kisahku dengan dirimu, aku jadi lupa keberadaanku saat ini. Orang-orang yang disekelilingku tak ku cakapi walau sekata ucapan-pun, terkadang mereka bertanya, Tidak ku jawab sebutir huruf-pun yang terlontar dari bibirku. Mungkin mereka sakit hati dengan sikapku yang demikian, tapi biarlah, mereka juga akan mengerti jika suatu saat sebuah cinta menerpa dinding hatinya.
Aku tidak menginginkan hal ini, namun bila aku telah terjun dan tenggelam dalam lamunan bersamanya, jiwaku tak mampu lagi keluar serta imajinasiku tak sanggup mengelak atas apa yang telah ia taburi diatas ubun-ubunku. Ini adalah sebahagian risiko dalam menjalankan hubungan jarak jauh, yang dipisahkan oleh gunung dan air, samudra dan pulau, oleh lautan dan juga pantai, yang hanya mampu bercinta dalam lamunan, dan khayal.
Jika ini sebuah kesalahan, aku harap kalian tidak menemukan kisah cinta sepertiku saat ini dan juga tidak menjalankannya seperti yang aku jalankan sekarang ini, sebab ini sangat menyakitkan..



Medan, 2 November 2013