KISAH HATI YANG TERLUKA

Dengan cinta ku melangkah namun kecewa dan luka yang ku dapat, Dengan perasaan ku berjalan namun sakit yang ku rasa. Harapan dan mimpi mimpi selama ini yang ku buat kini telah mengoyak jiwa yang menjadikanku hancur lebur bagaikan debu yang akan hilang terbawa angin-angin kehancuran. 

Tak perna ku sangka kau akan berbuat demikian, tapi apa yang bisa ku lakukan, inilah kenyataannya, yang selama ini ku anggap nyata dalam cinta dan hidupku ternyata hanyalah mimpi-mimpi disiang hari ku, engkau telah membangunkan aku dengan kekecewaan yang amat menyakitkan, luka yang begitu dalam, didalam hati dan cinta ini, namun entah kenapa aku tak bisa membenci dirimu apa lagi tuk melupakanmu.

Engkau yang aku cintai dengan segenap cinta yang ada, ku basuhkan dengan kesucian kasih sayang yang ku persembahkan untukmu, namun, kepura-puraan yang kau ciptakan untukku, ketidak jujuranmu yang kau beri, dan kebohongan yang kau selimutkan pada jiwaku yang tertatih rapuh. 

Telah lama hal ini tersadarkan dariku, namun entah kenapa cinta terus menyakinkan hati, perasaan terus mengalir bagaikan sungai yang tiada kekeringan, Terus membuatku belajar tuk memahami cinta meski tak perna ku tahu cinta itu apa , sepertinya aku mengerti tapi tidak mengerti, sepertinya aku mengalami tapi tidak mengalami. Cinta, kau membinngungkanku, aku merasa memiliki, namun kau tak dimiliki.

Aku merasa telah memintah, namun kekosongan yang kau berikan. Kau datang menimbulkan rasa, kau pergi meninggalkan luka. Dalam diri terus berusaha tuk mencoba, namun tiada hasil dan tak perna dihargai. Aku datang, duduk diam bagaikan alam tak berpenghuni, aku bertanya tuk bersuara dianggap tak perna ada seperti angin yang akan berlalu dengan sendirinya, menjawab singkat dalam ketakutan sepertinya takut akan amarah yang mengeluarkan suara, sebenarnya aku senantiasa tuk mendengar kicauan nada-nada rindu yang ingin ku dengar selama dikejahuan, selama ku merindukanmu, aku ingin mendengarkannya berada dekat disisimu. 

Memang, aku sakit saat itu, memang sakit dalam hati bila terus ku dapatkan ketidak pedulian darimu, kau abaikanku disaat aku jauh, kau anggap aku tak perna ada disaat kita bersama. Namun, semuanya disaat itu, biarlah ku simpan dalam sepiku sendiri, cukup diriku yang tahu, hanya diriku, untukku mencari celah dalam diri dimana kesalahan yang ku lakukan. Tapi, hal itu tak perna kau tahu dan tak perna sedikitpun kau mengerti tentang hati ini, betapa berartinya cinta dan dirimu dalam hati kehidupanku.

Cintaku untukmu takkan perna mati dan hilang, namun engkau buang cintaku hingga tak bertepi. Engkau tersenyum dihadapanku, tersenyum melihatku, tersenyum disaat aku terjatuh, memelukku erat dalam bayangmu sebelum kau meninggalkanku, meninggalkan bekas yang membuatku tak kuat untuk berdiri. Apa yang kau perbuat, kenapa selama ini, selama sebelum itu tak perna kau jujur dihadapanku, dari duluh kejujuranmu yang ku inginkan, itu yang aku katakan. Namun, selalu kau tutup dalam sepimu sendiri. 

Disaat ku terbuai dalam perasaan, menyatuh dalam cinta, kau memberiku api, membakar jiwa yang panasnya menyesakkan dada, mematahkan tulang, menghentikan darah, hilangkan detak nadi, membelah cinta berkeping-keping, aku hancur lebur tak berdaya, apakah aku bisa melupakanmu dan menghilang dalam cintaku, ataukah meninggalkan bekas karena cintaku yang telah menyatuh dengan lembutnya.

Hari itu tepat ditanggal 1 agustus , dimana malam yang membuatku bahagia menggebuh rasa, bagaikan dalam mimpi, mungkin itu malam termanis yang perna terjadi dalam hidupku. Aku bermimpi akan seperti itu, aku bermimpi senyummu seperti itu dan aku bermimpi senyummu selamanya untukku. Namun, ternyata semua yang terjadi hanyalah mimpi, hanyalah kebohongan yang berjalan melingkari angan-anganku yang selama ini aku anggap nyata.

Aku terlalu percaya pada cinta, aku terlalu yakin kepada hati, aku terlalu terhanyut dalam buaian perasaan, sehinggah aku tak sadar bahwa dimalam itu adalah peristiwa yang akan menghancurkanku, memecah belah rasa dijiwa melebur kalbu hinggah tak tersisah, tertusuk duri dalam hati yang perih pedihnya tak bisa ku kira. Kemana rasa perasaan, kemana hatimu pergi, kemana arah matamu memandang, kenapa kau berikan cinta yang begitu menyakitkan, menjalankan sandiwarah yang mengibahkan hati. 

Apakah kelembutan hati dalam berkata, aku terlihat memohon dan berlutut untuk mendapatkan cinta. Apakah dalam ketulusan hati, aku terlihat seperti orang bodoh yang terlaluh mengharap akan kasih sayang, terlaluh mengibah untuk mendapatkan perhatian dan pandangan, ataukah psikologi jiwaku salah melakukan kata hatinya sendiri. Sehingga kau beri kasihan bukan cinta yang aku inginkan, kau anggap aku seperti pengemis yang meminta-minta, yang membutukan belas kasihan, sungguh itu bukan diriku, kau telah salah jika kau menilai diriku seperti itu. 

Walaupun diri ditengah hujan, aku tak membutuhkan payung yang diberikan karena kasihan. Hatiku sudah gelap, jiwaku telah rapuh saat itu, bukan kasihan yang aku inginkan untuk melindungiku, bukan. dengan kelembutan, dengan perlahan, dengan hati-hati aku mendekat dan bertanya hanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati yang selama itu aku pendam. Namun. Malam itu memang sakit bagiku, memang perih yang kurasakan dalam hati, saat memandang singkat jawaban yang tak bersuara. Tapi, aku puas, meskipun kepuasan itu mungkin bersembunyi dibalik rasa sakitku.

Aku hanya tak percaya, aku hanya tak menduga hal itu yang akan terjadi dalam diriku. Ternyata dalam diam kau menyembunyikan sandiwarah tentang diriku, aku tak menyangkah kau berbuat demikian. Apakah ada dendammu yang ingin kau balas, ada rasa sakit hatimu padaku yang kau pendam. Kenapa, sehingga cinta dan perasaan ini tak perna dihargai, kau permainkan semaunya, mungkin sekarang dirinya puas, puas terhadap kesakitan yang dirasakan, ya mungkin hatinya puas.

BIAR HATI TERSAKITI
NAMUN, BAHAGIAKU MENCINTAI
KARENA, HANYA DIA YANG TERINDAH
TERINDAH DALAM HATI,
HATI KEHIDUPANKU Adhiebkl@ymail.com