Tak Putus Dalam Setia
Ikhlasku menunggu
Seribu tahun lagi
Tapi benarkah hidup akan selamanya.
Biar kembali dari ada ke tiada lagi,
Harapku tak putus dalam setia.
Ikhlasku mengejar
Seribu jarak jalan terjal lagi,
Tapi benarkah tapak ini akan tahan sepanjang waktu.
Biar air tak mengalir lagi
Tenanglah wahai gelombang,
Aku masih setia tuk menanti.
Duhai kasih harapan jiwa
Adakah dirimu yakin ini cinta
Adakah dirimu pasti ini untuk selamanya.
Seribu tahun lagi
Tapi benarkah hidup akan selamanya.
Biar kembali dari ada ke tiada lagi,
Harapku tak putus dalam setia.
Ikhlasku mengejar
Seribu jarak jalan terjal lagi,
Tapi benarkah tapak ini akan tahan sepanjang waktu.
Biar air tak mengalir lagi
Tenanglah wahai gelombang,
Aku masih setia tuk menanti.
Duhai kasih harapan jiwa
Adakah dirimu yakin ini cinta
Adakah dirimu pasti ini untuk selamanya.
Puisiku Telah Berkumandang
Di hari lain,
Di tempat yang lain.
Kamu memilih yang lain,
Dihari ke hari, diwaktu ke waktu.
Aku akan menulis puisi tentang kenapa aku sedih.
Aku sangat muak tentang ini semua,
Aku rindu merasa senang, aku disisi merasa bahagia.
Jika seseorang tahu jalan keluar dari sakit hati,
Jangan lama tuk memberitahu.
Mereka mengatakan padaku “Kau akan baik-baik saja”,
Dan tersenyum tepat pada ku.
Mereka berpikir, Ya benar,
Mungkin itu yang harus aku lakukan.
Namun, mereka tak tahu apa yang aku alami.
Apakah engkau tahu bagaimana rasanya merasa,
seperti engkau harus menggaruk matamu saat ingin keluar,
Hanya saja engkau tak bisa melihatnya dengan jelas.
Ketika aku menulis kata-kata ini,
nafas ku diisi dengan mendesah, tersendat dalam hati.
Karena mereka mengingatkanku padamu,
Aku perlahan-lahan mulai menangis,
Airmata mulai keluar berjatuhan.
Ini tidak adil,
Ini perasaan yang meninggalkan aku telanjang.
Ini tidak adil bahwa aku kehilangan dirimu,
bahkan dirimu tak ingin peduli.
Engkau membuat semuanya jelas,
Ketika engkau membiarkan giliran duniaku gelap.
Aku menatap beda pada semua orang,
Pada hatiku, kau meninggalkan tanda,
Membekas yang teramat dalam.
Puisiku telah berkumandang, perasaan ku telah diberitahu.
Aku harap engkau ingat kata-kata ku,
Dihari-harimu berwarna abu-abu
Dan dihari-hari tua mu nanti.
Di tempat yang lain.
Kamu memilih yang lain,
Dihari ke hari, diwaktu ke waktu.
Aku akan menulis puisi tentang kenapa aku sedih.
Aku sangat muak tentang ini semua,
Aku rindu merasa senang, aku disisi merasa bahagia.
Jika seseorang tahu jalan keluar dari sakit hati,
Jangan lama tuk memberitahu.
Mereka mengatakan padaku “Kau akan baik-baik saja”,
Dan tersenyum tepat pada ku.
Mereka berpikir, Ya benar,
Mungkin itu yang harus aku lakukan.
Namun, mereka tak tahu apa yang aku alami.
Apakah engkau tahu bagaimana rasanya merasa,
seperti engkau harus menggaruk matamu saat ingin keluar,
Hanya saja engkau tak bisa melihatnya dengan jelas.
Ketika aku menulis kata-kata ini,
nafas ku diisi dengan mendesah, tersendat dalam hati.
Karena mereka mengingatkanku padamu,
Aku perlahan-lahan mulai menangis,
Airmata mulai keluar berjatuhan.
Ini tidak adil,
Ini perasaan yang meninggalkan aku telanjang.
Ini tidak adil bahwa aku kehilangan dirimu,
bahkan dirimu tak ingin peduli.
Engkau membuat semuanya jelas,
Ketika engkau membiarkan giliran duniaku gelap.
Aku menatap beda pada semua orang,
Pada hatiku, kau meninggalkan tanda,
Membekas yang teramat dalam.
Puisiku telah berkumandang, perasaan ku telah diberitahu.
Aku harap engkau ingat kata-kata ku,
Dihari-harimu berwarna abu-abu
Dan dihari-hari tua mu nanti.
Wahai Halamanku
Aku seperti bunga yang diantara ada seperti tak ada,
Ketulusanku terabaikan,
Wangiku memang tak harum seperti bunga yang ada,tapi,
Aku ingin mengharumkannya didalam sebuah halamanmu.
Akar ku yang tak kuat berkeinginan untuk tumbuh,
Demi mengindahkan halamamu
Tapi kenapa keberadaanku seperti tak ada dan tak dianggap,
Aku tercampak tak dipedulikan.
Niatku tuk saling mengindahkan, diabaikan olehmu,
Tak perna kau perdulikan.
Wahai halamanku...
Jangankan kau menyentuh daun, menggenggam akarku,
Melihat dan melirikpun kau tak perna.
Aku bunga tak dikehendaki tumbuh dihalamanmu,
Aku tak perna disiram air ketulusan mu,
Wahai halamanku...
Aku layu dan sakit tanpamu,
Dengarkah engkau jeritan ranting ranting ku yang patah dan rapuh ini,
Wahai halamanku.....
Lihat aku disini, penuh kerapuhan.
Aku berharap adanya hujan turun menyirami akar
Dedaunanku yang sudah kering kehausan.
masih adakah sedikit air untuk akar ku yang rapuh
Kesakitan akan cengkraman tanah yang menjepitku.
Wahai halamanku...
Aku lemah, layu tanpa perawatanmu,
Teteslah sedikit air keheningan darimu,
Agar aku dapat bertahan menghantar wangi bungaku,
Wanginya memang tak seharum yang engkau kehendaki
Namun, sari ku tulus mencintai
Wahai halamanku.
Ketulusanku terabaikan,
Wangiku memang tak harum seperti bunga yang ada,tapi,
Aku ingin mengharumkannya didalam sebuah halamanmu.
Akar ku yang tak kuat berkeinginan untuk tumbuh,
Demi mengindahkan halamamu
Tapi kenapa keberadaanku seperti tak ada dan tak dianggap,
Aku tercampak tak dipedulikan.
Niatku tuk saling mengindahkan, diabaikan olehmu,
Tak perna kau perdulikan.
Wahai halamanku...
Jangankan kau menyentuh daun, menggenggam akarku,
Melihat dan melirikpun kau tak perna.
Aku bunga tak dikehendaki tumbuh dihalamanmu,
Aku tak perna disiram air ketulusan mu,
Wahai halamanku...
Aku layu dan sakit tanpamu,
Dengarkah engkau jeritan ranting ranting ku yang patah dan rapuh ini,
Wahai halamanku.....
Lihat aku disini, penuh kerapuhan.
Aku berharap adanya hujan turun menyirami akar
Dedaunanku yang sudah kering kehausan.
masih adakah sedikit air untuk akar ku yang rapuh
Kesakitan akan cengkraman tanah yang menjepitku.
Wahai halamanku...
Aku lemah, layu tanpa perawatanmu,
Teteslah sedikit air keheningan darimu,
Agar aku dapat bertahan menghantar wangi bungaku,
Wanginya memang tak seharum yang engkau kehendaki
Namun, sari ku tulus mencintai
Wahai halamanku.
Jiwa Yang Terpendam
Hanya amarah berguncang dalam jiwah
Mengalir emosional tertuang bagaikan darah
Detak jantungku hentikan nafas
Denyut hati menuai dalam rasa,
Mulutku terbungkam mendengar sejarah perjuanganmu
Telingahku bergetar mendengar retorika yang kau sampaikan
Mataku berbinar-binar melihat semangat terpancar diwajahmu,
Tapi hatiku, terkoyak kesakitan
Menjerit tangis karena kepedihan,
Sajak-sajak yang kau gunakan menghancurkan fikiranku
Kata-kata dalam alur ceritamu meremukan hati.
Mungkin menurut kau benar, dan syah-syah saja
Atas kebohongan yang kau takbirkan
Manipulasi sejarah diri yang engkau kobarkan
Tak ada yang salah, Itu kreasimu,
Itu gaya pemikiranmu,.....
Aku tahu engkau mencobah jadi percikkan api,
Memberikan semangat pada jiwa yang gelap
Namun hati, jiwah, dan fikiran ini
Menentang keras apa yang kau sampaikan
Tak bisa hatiku menerimanya dengan ikhlas,
Kebohonganmu kalah pada hati yang jujur,
Jiwa yang terpendam, dan
Kepada fikiran yang selalu berakal.
Mengalir emosional tertuang bagaikan darah
Detak jantungku hentikan nafas
Denyut hati menuai dalam rasa,
Mulutku terbungkam mendengar sejarah perjuanganmu
Telingahku bergetar mendengar retorika yang kau sampaikan
Mataku berbinar-binar melihat semangat terpancar diwajahmu,
Tapi hatiku, terkoyak kesakitan
Menjerit tangis karena kepedihan,
Sajak-sajak yang kau gunakan menghancurkan fikiranku
Kata-kata dalam alur ceritamu meremukan hati.
Mungkin menurut kau benar, dan syah-syah saja
Atas kebohongan yang kau takbirkan
Manipulasi sejarah diri yang engkau kobarkan
Tak ada yang salah, Itu kreasimu,
Itu gaya pemikiranmu,.....
Aku tahu engkau mencobah jadi percikkan api,
Memberikan semangat pada jiwa yang gelap
Namun hati, jiwah, dan fikiran ini
Menentang keras apa yang kau sampaikan
Tak bisa hatiku menerimanya dengan ikhlas,
Kebohonganmu kalah pada hati yang jujur,
Jiwa yang terpendam, dan
Kepada fikiran yang selalu berakal.
Mewarnai Ukirannya Sendiri
Dibalik kerudung berwarna polos,
Engkau tersenyum menyapa hujan.
Pesonamu indah mewarnai hari,
Namun engkau enggan menyambut mentari,
Hingga menghilang saat mentari mulai mengkabut.
Hati merasa sepi tiada penghuni,
Jiwa terasa sunyi tiada menghiasi
Hingga pelangi, mewarnai ukirannya sendiri.
Membiarkan rasa terhanyut,
Terjungkal pada terjangan sang ombak.
Mencoba mengikhlaskan hempasan lepas terjangan rasa,
Mungkin telah menjadi ketetapan sendiri dalam hati.
Sulit mungkin bagiku lepas dari sebuah genggaman,
Tapi apadaya, hasrat hanya jadi hayalan dalam mimpi.
Hanya bertahan dalam cekikan sebuah rasa.
Engkau tersenyum menyapa hujan.
Pesonamu indah mewarnai hari,
Namun engkau enggan menyambut mentari,
Hingga menghilang saat mentari mulai mengkabut.
Hati merasa sepi tiada penghuni,
Jiwa terasa sunyi tiada menghiasi
Hingga pelangi, mewarnai ukirannya sendiri.
Membiarkan rasa terhanyut,
Terjungkal pada terjangan sang ombak.
Mencoba mengikhlaskan hempasan lepas terjangan rasa,
Mungkin telah menjadi ketetapan sendiri dalam hati.
Sulit mungkin bagiku lepas dari sebuah genggaman,
Tapi apadaya, hasrat hanya jadi hayalan dalam mimpi.
Hanya bertahan dalam cekikan sebuah rasa.
Permata Dalam Hati, Emas Dalam Jiwa
Pagi hari, mentari telah bersinar,
Telah mengajakku bermain bersama imajinasi,
Mengingatmu menjadi penyambut senyum diawal hariku.
Aku tahu dan sangat aku sadari
Jika mimpi dan asahku hanya jadi ilusi keingananku sendiri,
Namun aku juga tahu dan sangat aku fahami
Tentang rasa yang berdenyut dihati.
Ini bukan rasa benciku kepadamu,
Bukan juga rasa kecewaku terhadap pilihanmu.
Ini rasa cintaku tuk mencintaimu,
Rasa rinduku tuk disisih dan memandangmu,
keinginanku ingin mendamping dan mendekapmu lebih lama,
Menjagamu adalah impian nyata yang ingin ku gapai.
Tak ada niat dalam hati melepaskanmu,
Namun ku coba terima jika kepergian itu adalah keinginan dari hatimu.
Biarlah aku menangis bersama airmata kekecewaan,
Biarlah aku sendiri disini memeluk bintang tanpa sinar.
Kau hadir membangunkan hari,
Kau datang membuatku terjaga bersama bayang bayang dalam indahnya mimpi.
Aku seakan ingin marah pada alam yang telah memisahkan jarak,
Menghancurkan waktuku bersamamu.
Lebur menciptakan rindu dalam kehampaan jiwa.
Aku ingin berada diatas gunung di alam yang sunyi, ditempat yang tertinggi,
Berteriak sekuat suara guna memanggil namamu dalam kerinduan hati.
Engkau keindahan dalam hidupku,
Permata dalam hati, emas dalam jiwa,
Berlian saat cahaya memeluk dan menyinarimu.
Namun, engkau telah menjauh,
Jauh pergi meninggalkan jejak,
Membiarkan ku sendiri didalam ruang kerinduan.
Tiada cahaya, tiada sinar,
Bersama gelap kau biarkan aku sendiri
Berdiri bersama kenangan masalaluh.
Telah mengajakku bermain bersama imajinasi,
Mengingatmu menjadi penyambut senyum diawal hariku.
Aku tahu dan sangat aku sadari
Jika mimpi dan asahku hanya jadi ilusi keingananku sendiri,
Namun aku juga tahu dan sangat aku fahami
Tentang rasa yang berdenyut dihati.
Ini bukan rasa benciku kepadamu,
Bukan juga rasa kecewaku terhadap pilihanmu.
Ini rasa cintaku tuk mencintaimu,
Rasa rinduku tuk disisih dan memandangmu,
keinginanku ingin mendamping dan mendekapmu lebih lama,
Menjagamu adalah impian nyata yang ingin ku gapai.
Tak ada niat dalam hati melepaskanmu,
Namun ku coba terima jika kepergian itu adalah keinginan dari hatimu.
Biarlah aku menangis bersama airmata kekecewaan,
Biarlah aku sendiri disini memeluk bintang tanpa sinar.
Kau hadir membangunkan hari,
Kau datang membuatku terjaga bersama bayang bayang dalam indahnya mimpi.
Aku seakan ingin marah pada alam yang telah memisahkan jarak,
Menghancurkan waktuku bersamamu.
Lebur menciptakan rindu dalam kehampaan jiwa.
Aku ingin berada diatas gunung di alam yang sunyi, ditempat yang tertinggi,
Berteriak sekuat suara guna memanggil namamu dalam kerinduan hati.
Engkau keindahan dalam hidupku,
Permata dalam hati, emas dalam jiwa,
Berlian saat cahaya memeluk dan menyinarimu.
Namun, engkau telah menjauh,
Jauh pergi meninggalkan jejak,
Membiarkan ku sendiri didalam ruang kerinduan.
Tiada cahaya, tiada sinar,
Bersama gelap kau biarkan aku sendiri
Berdiri bersama kenangan masalaluh.
Subscribe to:
Comments (Atom)