DALAM LAMUNAN

Malam makin menunjukan kepekatannya, malam ini malam minggu yang seharusnya malam ku berduaan bersamamu, duduk berdamping memaduh kasih tanpa resah dan kegelisahan sang malam, berdempet posisi tanpa ada celah pemisa antara aku dan kamu.
Sebentar-sebentar aku pergi kearah pintu, melihat mereka yang sedang memaduh kasih, bercerita hangat dalam sebuah pelukan malam. Aku irih pada mereka, yang dimalam minggu selaluh berduaan bersama kekasihnya, bercerita bersama, ketawa bersama, canda bersama, mengukir kisah romatis diwaktu yang sama. Hemmmzzzzz dalam hati ku seolah tak ada hentinya membaca do’a, meletakkan disetiap namamu diujung bulir-bulir tasbinya yang terucap.
Aku ingin seperti mereka, namun itu hanyalah ilusi berupa hayalan yang memanjakan waktu ku saat ini. Hanya sebuah harapan yang tidak aku ketahui dimana letak titik akhir ia akan berhenti, tak ada symbol atau kode yang memberikan tanda bahwa ini akan berakhir. Semacam mengikuti putaran jarum jam yang tertempel didinding kamarku, ia terus berkeliling dari waktu ke waktu dikejadian yang sama dan tempat yang sama tanpa berhenti walau malam telah terlelap dalam mimpi. Ini kenyataan, buktinya aku masih disini, masih diatas hangatnya kursi yang telah lama ku duduki sedari tadi, mungkin kalau saja kursi ini bisa menjerit, ia telah berteriak tentang kebosanannya memangkuh pantatku. Sedangkan aku terus sibuk mencari kisah yang ingin ku abadikan didalam sebuah tulisan ini, aku ingin menulis lepas seperti penulis yang dengan mudah mengalirkan tintanya diatas selembaran kisah tentang kehidupan, namun aku tak dapat meniruh jalan mereka dalam menguraikan sebuah kisah.
Aku terus mencoba memasuki diriku sendiri untuk mengambil detik demi detik kisah yang mungkin bersedia untuk ku abadikan dalam kisahku malam ini.
Kopi telah berapa gelas ku habisi, rokok sebatang demi sebatang berlaluh habis termakan api, walau perlahan terhisap, asapnya menebar mengkabutkan ruangan, seolah menghalang jalannya imajinasiku dalam berlayar. Harap berganti harap supaya imajinasiku mampu bermain dalam manjaan hanyalku, namun itu belum juga cukup tajam mengupas dinding yang memenjarahkan ku, padahal tubuh ini telah ku telanjangi, telah ku lepas jubah kekecewaan yang membelengguhku dari masalah-masalah kehidupan, telah ku kuliti sekujur tubuh ini dengan imajinasi perasa, telah ku lepas semua keresahan diri yang mengurungku dari rasa ketenangan jiwa, namun masih tak mampu juga aku menembus ruang-ruang penjelajahan riwayatku.
Pilihanku malam ini ingin mengukirkan kisahmu dan kisahku yang berkalborasi dalam sebuah ikatan cinta, ku ingin menciptakannya dengan jari-jariku sendiri tentang kisah kita, dengan membiarkan daya khayalku menjelajah masa lampau yang mengulang riwayat waktu ketika aku bersamamu. Ini pilihan bukan tanpa pertimbangan, telah ku coba lari dari bayanganmu, namun diujung malam ditempat perenungan ku ini terus menyebut namamu wahai kasih. Ku nikmati cumbuan malam ini bersamamu, ku sambut bahagia bayangmu hadir disisi.
Seharusnya malam ini aku menelpone mu, bertanya “kamu lagi apa, dimana, dan sama siapa, atau sekedar menanyakan tentang kabar dihari-harimu”. Tapi entah kenapa dari hari kemaren sampai saat ini hatiku lemah, jiwaku sepih, aku merasa ingin sendirian tanpa ada yang menggangguku, termasuk denganmu, yang padahal kesunyianku telah sadar bahwa aku telah berada didalam sepih. Bukan aku lari pergi darimu atau melupakanmu, kamu tetap ada bersamaku selalu menemani disetiap helaian lamanuanku.
Mereka, dia yang ada disekitarku malam ini, melihatku dengan keanehan, kadang mereka tertawa, kadang tersenyum, mengejek dengan kata lembut, namun tiada ku peduli. Ku ingin tetap dalam posisiku, tak ingin lepas dari rasa bahagia becumbuh dengan mu, ku tahu ini khayal, ku sadar ini ilusi, namun ku tak ingin hilang walau sekejap bersama bayangmu. Ku ingat masa kita berdua, duduk bersama, ketawa bersama, berbincang ngelantur kesana kemari, kadang terhenti kau menatapku dengan tersenyum, meski terkadang aku juga sering terdiam menatap polos raut wajahmu, ku tersenyum kasih.
Jika ini adalah sebuah mimpi bagi diriku, aku tak ingin terbangun dari tidur ini, walau ku tahu ini sebuah ilusi khayalan yang mengajak imajinasiku bermain dalam bayanganmu, aku tak ingin terlaluh cepat sedar dari tempat perenungan ini.
Ingatkah engkau dengan ku kasih, ataukah engkau sedang merasakan hal yang sama seperti kondisiku saat ini, ku harap memang demikian adanya. Jika memang iya, aku senang mendengarnya.
Wahaii gadis kecil berwajah bidadari, kau seperti tuan putri didunia khayangan yang diberi izin lahir ke bumi. Kau semacam mahkota yang tak boleh disentuh oleh siapa-pun selain pangerannya sendiri. Aku ingin jujur  dalam kebisuanku, melalui tulisan ini aku menceritakan tentang kenyataan cintaku dan kamu, aku tak perna berbohong dalam perenungan, walau terkadang aku sering tak jujur dengan kenyataan. Aku tahu siapa aku, walau sering aku tak mengerti bagaimana aku, aku harus mengatakan hal ini padamu, tentang kenyataanku dan cintaku atas dirimu.
Ini segelintir kisah dalam perenunganku saat mengingatmu, cerita ini cerita laluh, yang tak sama sekali berharga dalam hidupmu, mungkin juga kamu telah lupa. Tapi tidak dengan ku, ini kisah terindah dalam perjalananku, selalu ku simpan dalam memori ingatanku. Dan juga karena sepenggal kisah ini membuatku mampu bertahan hingga saat ini, dan berharap akan abadi sampai liang lahat menguburku dalam kematian.
Hari itu, aku mengantarmu pulang kerumah, bukan yang pertama mungkin entah yang keberapa kali, aku lupa itu hari yang keberapa aku mengantarmu. Aku senang melakukannya walau setiap hari aku harus antar jemput. Diatas sepeda motor yang kita tunnggangi aku kebanyakan tersenyum daripada bicara. Dari hati ku mencoba untuk mengatakan sesuatu yang tak perna aku mengerti dari mana datangnya, entah badai apa yang menggulungku hingga remuk dalam asmara ini. Mungkin saat itu engkau telah tahu tentang apa yang ingin ku sampaikan, namun kita sama-sama masuk kedalam suasana yang membisu. Kira-kira sudah dekat kearah rumahmu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya “malam ini sepertinya malam apa..?, dan adakah malam ini tamu mu  datang kerumah untuk menemui mu…?” engkau menjawabnya dengan singkat, namun penuh kejelasan, aku mendengarnya seakan melayang keudarah yang wangiannya ditaburi dari seribu bunga. Ini kesempatan emas dalam hatiku berbisik, seketika engkau mengantarkan pertanyaan yang membuatku kebingungan dan gugup untuk menjawab apa. Saat itu, kali pertama aku membohongimu, dengan mengatakan kalau ada seorang teman dariku yang menyukaimu, namun ia sulit untuk mengatakannya secara langsung. Saat itulah aku membohongimu dan menyakiti hatiku sendiri, hanya karena aku ingin kerumahmu malam itu.
Engkau seolah penasaran dengan temanku yang menyukaimu itu, dan mengizinkan aku untuk datang kerumah mengajaknya malam ini. Tak begitu banyak obrolan terurai disepanjang jalan, kita telah sampai didepan rumahmu. Engkau-pun langsung turun dan menitipkan senyum padaku sebelum aku juga berangkat pulang kerumah, aku-pun membalasnya dengan tersenyum, namun dibaliknya aku simpan kebingungan untuk menghadapi kebohonganku terhadapmu tadi.
Karena hari telah senja, malam-pun begitu cepat datang menjemputku, seakan senyum yang kau titipkan padaku didepan rumahmu tadi telah menggil, menjemputku untuk datang. Untuk menemuimu malam itu aku seolah menjadi pangeran yang tak ingin lupa sedikit-pun asesoris yang melengkapi jubahku. Rambutku adalah seperti mahkota yang selalu diperhatikan oleh orang-orang yang tinggal diistana, sehingga aku merapihkannya serapih mungkin, dengan harapan engkau akan melihatku sama seperti orang-orang diistana memperhatikan mahkota yang terpasang diatas kepala pangerannya. Baju, celana, serta parfum yang aku pakai telah sedemikian rapih dan wangi, aku tak ingin malam ini engkau melihatku seperti gembel dijalanan, malam ini adalah malam pertamaku yang akan menyatuhkan tapak kaki ini diatas lantai istana mu.
Hemmzzzz malam itu, malam yang menakutkan bagiku, bukan karena menemuinya, tapi ketakutanku karena harus menemui diriku sendiri.
Gedor demi gedor, salam demi salam, ku ucapkan Assalamualaikum tepat didepan pintu rumahmu. Ada suara jawaban terdengar, namun suara cowok, mungkin itu adalah suara kakak mu, ternyata benar, dia-pun membuka pintu, dan bertanya “Ada apa”, dengan hati yang gerogi aku memberanikan diri padanya untuk mempertanyakan dimana keberadaanmu. Aku melihat keramahan diwajah kakak mu, sehingga rasa takut dalam diri pun jadi hilang. Kakak mu langsung menggilmu dan berkata ada kawanmu diluar”, engkau menyahutnya dengan “Iya, tunggu sebentar”. Suara merdu itu membuatku tetap berdiri menunggumu  menyambut kedatanganku dirumahmu malam itu. Engkau keluar membuka pintu, dalam hatiku berdoa semoga engkau juga membukakan pintu hatimu untukku, hehehe….J dan menyambutku sama halnya seperti didepan pintu ini, dengan tersenyum J.
Waaahhhhh, karena keasyikan terjun dalam lamunan yang menceritakan kisahku dengan dirimu, aku jadi lupa keberadaanku saat ini. Orang-orang yang disekelilingku tak ku cakapi walau sekata ucapan-pun, terkadang mereka bertanya, Tidak ku jawab sebutir huruf-pun yang terlontar dari bibirku. Mungkin mereka sakit hati dengan sikapku yang demikian, tapi biarlah, mereka juga akan mengerti jika suatu saat sebuah cinta menerpa dinding hatinya.
Aku tidak menginginkan hal ini, namun bila aku telah terjun dan tenggelam dalam lamunan bersamanya, jiwaku tak mampu lagi keluar serta imajinasiku tak sanggup mengelak atas apa yang telah ia taburi diatas ubun-ubunku. Ini adalah sebahagian risiko dalam menjalankan hubungan jarak jauh, yang dipisahkan oleh gunung dan air, samudra dan pulau, oleh lautan dan juga pantai, yang hanya mampu bercinta dalam lamunan, dan khayal.
Jika ini sebuah kesalahan, aku harap kalian tidak menemukan kisah cinta sepertiku saat ini dan juga tidak menjalankannya seperti yang aku jalankan sekarang ini, sebab ini sangat menyakitkan..



Medan, 2 November 2013

No comments:

Post a Comment