Puisiku Telah Berkumandang
Di tempat yang lain.
Kamu memilih yang lain,
Dihari ke hari, diwaktu ke waktu.
Aku akan menulis puisi tentang kenapa aku sedih.
Aku sangat muak tentang ini semua,
Aku rindu merasa senang, aku disisi merasa bahagia.
Jika seseorang tahu jalan keluar dari sakit hati,
Jangan lama tuk memberitahu.
Mereka mengatakan padaku “Kau akan baik-baik saja”,
Dan tersenyum tepat pada ku.
Mereka berpikir, Ya benar,
Mungkin itu yang harus aku lakukan.
Namun, mereka tak tahu apa yang aku alami.
Apakah engkau tahu bagaimana rasanya merasa,
seperti engkau harus menggaruk matamu saat ingin keluar,
Hanya saja engkau tak bisa melihatnya dengan jelas.
Ketika aku menulis kata-kata ini,
nafas ku diisi dengan mendesah, tersendat dalam hati.
Karena mereka mengingatkanku padamu,
Aku perlahan-lahan mulai menangis,
Airmata mulai keluar berjatuhan.
Ini tidak adil,
Ini perasaan yang meninggalkan aku telanjang.
Ini tidak adil bahwa aku kehilangan dirimu,
bahkan dirimu tak ingin peduli.
Engkau membuat semuanya jelas,
Ketika engkau membiarkan giliran duniaku gelap.
Aku menatap beda pada semua orang,
Pada hatiku, kau meninggalkan tanda,
Membekas yang teramat dalam.
Puisiku telah berkumandang, perasaan ku telah diberitahu.
Aku harap engkau ingat kata-kata ku,
Dihari-harimu berwarna abu-abu
Dan dihari-hari tua mu nanti.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment