Jiwa Yang Terpendam
Mengalir emosional tertuang bagaikan darah
Detak jantungku hentikan nafas
Denyut hati menuai dalam rasa,
Mulutku terbungkam mendengar sejarah perjuanganmu
Telingahku bergetar mendengar retorika yang kau sampaikan
Mataku berbinar-binar melihat semangat terpancar diwajahmu,
Tapi hatiku, terkoyak kesakitan
Menjerit tangis karena kepedihan,
Sajak-sajak yang kau gunakan menghancurkan fikiranku
Kata-kata dalam alur ceritamu meremukan hati.
Mungkin menurut kau benar, dan syah-syah saja
Atas kebohongan yang kau takbirkan
Manipulasi sejarah diri yang engkau kobarkan
Tak ada yang salah, Itu kreasimu,
Itu gaya pemikiranmu,.....
Aku tahu engkau mencobah jadi percikkan api,
Memberikan semangat pada jiwa yang gelap
Namun hati, jiwah, dan fikiran ini
Menentang keras apa yang kau sampaikan
Tak bisa hatiku menerimanya dengan ikhlas,
Kebohonganmu kalah pada hati yang jujur,
Jiwa yang terpendam, dan
Kepada fikiran yang selalu berakal.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment